Surat Misterius

surat cinta misterius

Sehari, dua hari, tiga hari dan akhirnya sebulan sudah Alya menghabiskan waktunya di sebuah pondok pesantren di luar kota tempat dirinya dilahirkan. Waktu sebulan itu terasa setahun baginya. Lama… ya sangat lama. Pasalnya di pesantren banyak peraturan yang mengharuskan dirinya untuk patuh, dan itu membuat Alya berkali-kali kena hukuman karena tidak patuh dengan aturan.

“Alya….” teriak lurah santri putri yang hapal betul dengan kelakuan santri baru ini. Teriakan itu memaksa Alya untuk pergi dari mimpi indahnya. “Emm…” Alya membalikkan posisi tidurnya. Tapi tidak untuk bangun melainkan untuk melanjutkan tidur manisnya.”Ih dasar nih bocah susah baget bangunnya” gumam Laila si lurah santri putri itu.

Di balik pintu kamar terdengar suara santri putri lain yang berusaha memberikan solusi agar Alya cepet bangun “Ada apa mbak Laila? Si Alya belum juga mau bangun?” Iya.. susah banget nih anak bangunnya” jawab Laila dengan nada kesal dan hampir berputus asa. “Tenang aja mbak, biar aku yang bangunin Alya” Vita mencoba membantu membangunkan Alya. “Alya cantiiik..udah ditunggu Kang Fatih tuh di lapangan buat latihan bela diri” Vita membangunkan Alya sambil cengingisan solnya ini hanya akal-akalannya dia saja agar Alya mau bangun. Hari ini hari Ahad, hari dimana santri dan santriwati PP Al-Musthofa biasanya ada kegiatan latihan seni bela diri. Namun untuk Ahad ini latihan diliburkan dengan alasan Kang Fatih si pelatih bela diri sedang ada tugas dadakan menghadiri rapat ke luar kota guna membahas perlombaan seni bela diri antar pondok pesantren seprovinsi Jawa Tengah.

Mendengar nama Kang Fatih disebut, spontan Alya bangun dari tidurnya. “Haduhh jam berapa ini? Aku telat aku telat..handuk..handuk mana handukku?” Alya mendadak rempong, dirinya lupa kalau Ahad kali ini latihannya libur. Sedang santriwati yang lain hanya tersenyum melihat tingkah si Alya ini. “Hey..Alya, kamu ngelindur ya? Sekarangkan libur latihannya..hhh” timpal Diva temen sekamar Alya. “Oh…iya..Aku lupa..hehe” jawab Alya sambil cengingisan.

“Tuh kan bener jurus jituku, Alya bakalan bangun kalau denger nama Kang Fatih disebut” Vita mencoba menggoda Alya yang matanya masih sipit dan kelihatannya nyawa Alya belum penuh  kembali ke raganya. ” Ih..apaan sih kamu Vit?” Alya pura-pura tidak tahu dengan maksud semua ini. “Halah..ndak usah ngumpetin perasaan mu deh Al…hhh” Liala juga ikutan membuly Alya. Memang sejak pertama masuk pesantren ini santri pertama yang Ia kenal ialah Fatih. Fatih dipercaya oleh Mbah Kyai Ahmad sebagai penerima tamu sekaligus ketua pengurus santri.

Sejak pertama bertemu ada rasa yang berbeda di hati Fatih, Ia gugup serasa tak berdaya ketika memperkenalkan dirinya kepada Alya yang waktu itu diantar kedua orang tuanya ke pesantren. Begitupun sebaliknya dengan Alya yang begitu hanyut dengan sikap Fatih yang sopan santunnya tinggi banget ketika berhadapan dengan orang yang baru ia kenal dan dengan orang yang lebih tua.

Setelah beberapa hari sejak Alya masuk ke pesantren ini, Fatih jadi terngiang-ngiang dengan wajah Alya. Cantik sih tidak terlalu, tapi wajah-wajah penuh kasih sayang nampak pada diri Alya. Hal ini lah yang membut Fatih sulit menepiskan bayang wajah santriwati baru ini.

♡♡♡

Setahun sudah Alya tholabul ilmi di PP Al-Musthofa ini. Alhamdulillah perubahan banyak terjadi pada dirinya. Kini ia menjadi seorang remaja yang lebih lemah lembut dari sebelumnya, menjadi lebih mandiri dan pastinya tambah pinter ngaji. Tidak salah orang tuanya memasukkan Alya ke ponpes ini.

Telah tiba waktunya liburan, hampir sebagian besar santri dan santriwati pulang ke kampung halaman  untuk mengobati rindu dengan orang-orang terkasihnya, termasuk Alya. Riuh terdengar suara gaduh dari bilik kamar santri putri. “Alya kamu nanti dijemput siapa?” Diva menyela ditengah kesibukan Alya yang sedang memasukkan beberapa baju ke tas hijau bermotifkan bunga melati itu. “InsyaAllah Mas Taufiq yang jemput” Alya menjawabnya dengan penuh semangat. “Emm Mas Taufiq kakak kamu kan Al?” Rupa-rupanya Diva penasaran sama sosok Taufiq ini. “Iya Mas Taufiq kakakku, kenapa emangnya?.. jangan bilang nanti disuruh ngenalin ya..aku nggak mau punya kakak ipar seperti mu Div..hehe” Alya cengingisan menggoda Diva yang suka kepo kalau ada ikhwan yang namanya tak sering Ia dengar di telinganya. “Ih..nggak lah, kamu jangan suudzon dulu Al..orang aku aja cuma nanya” Diva berusaha menyembunyikan kekepoannya itu. “Halah…nggak usah ngeles deh” Timpal Alya sambil mencubit lengan Diva. ” Aduh..apaan sih kamu Al..aku serius” Diva mengaduh lalu tanpa sebab Ia keluar dari kamar. Ya memang gitulah Diva suka nggak jelas.

Di kamar Marwah hanya tinggal Alya seorang diri. Ditatapnya lekat-lekat seluruh sudut ruang itu, ruang yang penuh kenangan indah bersama. Dua pekan Alya bakalan ninggalin kamar ini. Rasanya berat, tapi Ia lebih merasa berat jika tak bertemu orang-orang yang dicintainya di rumah. Alya bergegas keluar kamar tapi tiba-tiba Alya dikejutkan dengan selembar kertas yang jatuh. Sepertinya kertas itu jatuh dari kitab Aqidatul Awwam yang hendak Alya pinjamkan ke Rea teman di kamar sebelahnya. “Eh..kertas siapa nih” Alya nampak bingung dengan adanya selembar kertas yang dilipat rapi itu. Dirinya tidak merasa menaruh kertas di kitab itu. Perlahan Alya mencoba membuka lipatan kertas itu.

surat cinta

Terkejut bukan main. Ternyata kertas itu dari Fatih. Alya baru ingat kalau beberapa hari yang lalu kitabnya sempat ketinggalan di ruang mengaji. Mungkin Fatih yang menemukannya lalu dititipkan ke teman sekamarnya. Soalnya waktu itu Anggit yang memberikan kitab ke Alya.

Hati Alya buncah tak karuan. Pipi berlesungnya memerah bak mawar yang baru merekah. Ia tak menyangka kalau Fatih juga mennyukai dirinya. Alya pikir kisah asmaranya hanya bertepuk sebelah tangan seperti kebanyakan santri yang lain, tapi nyatanya tidak. Mungkin Alya memang tulang rusuk Fatih yang sempat menghilang.

~THE END~

By: Siti Aisyah