BAJU COUPLE TERAKHIR

cerita romantis bersama pasangan

Ayla Darma Atmaja itulah nama lengkapku. Teman-teman dan karyawan ku memanggilku dengan sebutan Ayla. Setelah 5 tahun bekerja menjadi karyawan, sudah cukup tabungan ku untuk mengundurkan diri dan akhirnya aku membuka sebuah usaha toko baju couple di salah satu area Mall yang paling ramai dan terkenal di Jakarta. Aku wanita yang seharusnya selalu bersyukur akan Anugerah yang Tuhan berikan padaku.Memiliki talenta dalam mendesign dan pemasaran adalah kombinasi yang tepat sesuai dalam bidang usaha yang sedang aku kembangkan.

          Seperti pagi ini, baru buka toko sudah ramai diserbu customer. Menurut pendapat mereka baju couple yang aku jual itu bahan berkualitas bagus, warna dan ukuran  ready stock, gambar dan kata-kata romantis yang aku buat sangat kreatif juga  banyak memberikan diskon.

          Tidak setiap hari berjalan dengan lancar, contohnya pagi ini adalah pagi yang menyebalkan untukku. Tania datang mengampiriku dengan wajah pucat.

“ Mbak Ayla, tolong bantu aku ya !” Tania meminta padaku dengan suaranya yang lirih dan hampir menghilang.

“ Ok…Ok aku bantu. Tapi…jelaskan dulu kamu kenapa dan perlu bantuan apa? Kok sekarang malah pakai nangis segala lebay banget deh ,“ tanya ku dengan wajah penasaran.

“I….itu…itu loh mbak ada mas ganteng mau beli baju couple ukuran nya sudah sesuai tapi warna biru yang diminta stocknya sudah habis mbak, tadi ada yang borong warna itu.” jawab Tania menjelaskan apa yang sedang terjadi di depan.

          Akupun segera ke depan mengikuti Tania yang habis dimarahi pembeli. “Ah gitu aja Tania nangis, Aku tinggal meminta maaf dan kasih jurus ampuh yaitu senyuman manis ku.”gumam ku dalam hati.

“Selamat Pagi mas, mohon maaf baju yang mas pesan sudah habis stocknya.Saya usahakan besok pagi sudah ready,” Sambil memberikan senyuman manis aku meminta maaf pada pembeli yang ganteng itu.

“Kenapa mbak senyum-senyum sama saya? Mbak suka sama saya ? Nggak bisa mbak pokoknya sekarang harus ada, coba mbak cari lagi di gudang,”kata pria ganteng itu dengan nada tinggi penuh emosi, membuat seluruh pengunjug toko menoleh ke arahnya.

          Dari pada emosi lebih baik aku membuktikan ucapanku. Pria itu terus mengikuti ku ke gudang . Aku berjalan perlahan sambil membawa tangga. Ku sandarkan tangga itu dan menaiknya satu persatu agar sampai untuk megecek baju-baju yang tertata rapi di atas rak.

“Gimana mbak ada nggak?,”tanya pria itu dari bawah tangga.

          Mata pria itu terus menatapku membuat aku salah tingkah. “Ah..tapikan dia sudah punya pacar ,”hahahah aku tertawa sendiri dalam hati. “Tapi …sepertinya aku pernah melihatnya tapi di mana ya?,”pikiranku mulai melayang-layang. “GEDUBRAKKK….,”Tubuhku pun terjatuh tepat ya tepat mendarat di pelukan pria itu. Mata kami saling bertatapan.Jantungku berdegup kencang.

“Namaku Aldy, kamu cantik kalau nggak pakai kaca mata dan rambutmu terurai,”kata Aldy saat menangkapku terjatuh.

          Hatiku seperti keluar gambar love saat Aldy menolongku,memujiku.Akupun baru meyadari kalau kaca mata dan ikat rambut ku terlepas. Wajah itu …senyum itu sepertinya aku pernah melihatnya. “ Dia sudah memarahiku dari tadi dan sekarang aku malah memuji dan memikirkannya hedewwww…” aku menghela nafas panjang dan membuyarkan hayalanku.

          Aldy membantuku untuk berdiri karena kakiku terkilir, ia menuntunku ke depan. Setelah aku gerak-gerakkan kakiku akhirnya bisa sembuh. Aldy pun akhirnya meminta maaf dan memilih kaos couple dengan design lain tapi warna tetap biru menjadi piihannya. Aldy pun berlalu dari toko ku. Aku pun beranjak dari kursi menuju food court mall untuk makan siang.Tiba-tiba seorang pria datang padaku ,memelukku sambil menangis. Sumpah siang hari bolong bisa BAPER ( bawa perasaan) seumur hidup belum pernah aku dipeluk lahhhh pacaran aja belum pernah . Saat pria itu melepaskan pelukanya baru ku sadari kalau itu ternyata Aldy. Lebih histeris lagi saat dompetnya terjatuh dan aku melihat nama dalam KTP itu Aldy Prawira.

Aldy pun berhenti menitikkan air mata dan bertanya padaku dengan wajah penasaran “WHY ?.”

“Aldy??? Kamu kah itu ? Aku Ayla Darma Atmaja teman kecil dan sekelas waktu SMP.”

          Aldy berhenti menitikkan air mata dan tersenyum, ia mengingatku. Aldy pun menarik tangan ku dan mengjak ku ke Aldy coffe shop miliknya yang terletak di seberang toko ku. Pantas saja aku seperti pernah melihatnya dan mengenalnya begitu dekat. Kami pun bercerita masa lalu kami dan penyebab tangisannya tadi karena ia baru saja melihat kekasihnya pacaran dengan pria lain dan memutuskan cintanya.

          Sejak itu kami dekat,bercerita dan akhirnya menjadi sepasang kekasih LDR ( Long Distance Relationship ) cinta jarak jauh antara Jakarta dan Canada.

*****

          Angin  bertiup kencang, daun maple mulai berguguran ke tanah yang mulai basah karena rintik-rintik hujan di area makam. Aku mengingatnya,masih sangat jelas dan membekas dihati saat-saat perjumpaan kami sejak kecil, perpisahan kami saat akhir SMP karena Aldy pindah ke Canada, tanpa sengaja kami berdua dipertemukan kembali saat di toko baju couple milikku. Saat-saat indah kami menjalin kasih, sampai akhirnya musim gugur aku terbang ke Canada untuk melepas rindu. Aku menunggunya di café tempat kami biasa bertemu.Aku baru mengabarinya saat sudah tiba di Canada kejutan untuk pacarku.Tapi….saat itu aku yang sangat terkejut. Hp ku berbunyi dari rumah sakit setempat.Aku berlari menerobos lalu lintas, lebih cepat dan tanpa kusadari kakiku yang berdarah karena lecet. Aldy baru diturunkan dari Ambulance ia masih memakai seragam PILOT, di genggaman tangan kirinya sebuah buket mawar putih,digenggaman tangan kananya sebuah kotak cincin dan sebuah surat yang sudah kotor karena terkena darahnya. Aku berterak histeris dan menagis. “Aldy…..”teriakku setelah membaca surat yang ia tulis berisikan teruntuk kamu….aku yang mencintaimu dan ingin melamarmu untuk mendampingiku seumur hidupku.

          Aldy membuka matanya perlahan sebelum masuk ke ruang Operasi dan ia berbisik padaku,” Ayla aku sangat bahagia baju couple yang kamu berikan sangat keren designnya dan romantis. Ayla aku ingin menikahimu, tapi aku sudah tidak kuat.Relakan aku pergi.”Kata Aldy lirih sambil menggenggam tanganku memberikan baju couple miliknya,bunga mawar dan kotak cincin juga surat itu untuk aku simpan.Tangan itu terkulai lemas Aldy meninggalkanku sendiri. Kecelakaan pesawat itu membuat kekasiku pergi untuk selamanya.

***

          Di makam ini aku menangis sepi sendiri daun-dan maple yang melambangkan cinta pun bertebaran di sekitar makam. Aku meletakkan baju couple terakhir kami di makam Aldy. Hanya satu  design di dunia ini hanya untuk kami yang saling mencintai sampai akhir.

TAMAT

By : Melani Sulistia Wati

Tentang Kelopak Bunga Lily dan Baju Biru Bergambar Hati

true love baju couple

 

              “Aku memperhatikanmu,” suara seorang perempuan membuatku mengalihkan perhatian dari apa yang sedang kukerjakan. Aku mendongak, dan mendapati gadis itu berdiri sejarak sepelemparan batu dariku. Kedua tangannya bersedekap, sementara sepasang  matanya memandangku menyirat tanya.
             “Aku?” tanyaku memastikan kata-katanya ditujukan padaku.
             “Iya, kamu, dan apa yang kau lakukan pada bunga-bunga itu,” jawab gadis itu. “Tapi aku tak mengerti, mengapa kau lakukan itu.”
             “Ini?” sahutku sambil menunjuk kelopak-kelopak bunga yang berserakan di sekitarku. Kupetik sekuntum bunga yang masih bergelayut di induknya. “Kau lihat ini ! Dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku……” aku merapal berulang kali seraya mencabut kelopak bunga yang kupetik satu per satu. Gadis itu menatapku sepertinya belum mengerti.
             “Aku sedang mencari jawaban atas cintaku,” terangku mencoba menjawab kebingungannya. “Kau tahu, sudah puluhan bunga kupetik, dan selalu berakhir dengan dia tak mencintaiku,” kesahku. Gadis itu tertawa geli.
              “Konyol, mengapa tak kau tanyakan langsung saja padanya, dia menerima cintamu atau tidak?” tanyanya kemudian.
               “Suatu saat, aku akan menanyakan langsung padanya. Tapi tidak sekarang, belum saatnya,” jawabku. Kupetik sekuntum bunga lagi. Gadis itu menunjuk bunga di genggamanku.
              “Kurasa  aku tahu masalahmu. Itu jenis bunga berkelopak genap. Kau akan tetap berakhir di kalimat yang sama. Kenapa tak kau balik saja urutan kalimatmu, atau kau cari saja bunga lain yang berkelopak ganjil?” saran gadis itu. Aku menggelengkan kepalaku.
               “Kau tak mengerti. Bukan begitu aturannya. Aku harus bertahan pada bunga ini sampai kutemukan kelopak yang tak biasa. Kelopak yang ganjil. Karena cintaku ini juga tak biasa,” terangku. Sekarang gantian gadis itu yang menggelengkan kepalanya.
                “Kau benar, aku tetap tak mengerti,” kata gadis itu seraya beranjak dari tempatnya berdiri, lalu melangkah menjauhiku. Aku mencuri pandang sosok gadis itu dari belakang. Tiba-tiba gadis itu berbalik, aku buru-buru menunduk lagi dan pura-pura kembali sibuk mencabuti kelopak bunga.
              “Aku harap kau beruntung!” kudengar dia berseru. Aku mendongak, lalu mengacungkan dua jariku sebagai tanda terimakasih. Gadis itu membalas dengan lambaian tangan, lalu kembali meneruskan langkahnya. Makin jauh, namun sesuatu dari dirinya tak mau beranjak dari tempatku berada.
pacar romantis baju couple
              “Ahaaaa! Akhirnya kau kehabisan bunga untuk kau cabik-cabik, kan?” gadis itu berdiri hanya tiga langkah dariku. Matanya berbinar, sepertinya pemandangan aku yang telah kehabisan bunga membuatnya bahagia.
              “Yahh, seperti yang kau lihat. Tak ada lagi bunga yang tersisa di pohon ini,” sahutku tanpa semangat. “Dan aku tak juga menemukan bunga berkelopak ganjil.”
               “Jadi bagaimana sekarang?” tanya gadis itu, raut wajahnya menunjukkan antara ikut prihatin dan penasaran.
                “Sepertinya sudah tiba waktunya aku menanyakan langsung padanya apakah dia menerima cintaku atau tidak,” terangku. Gadis di depanku tersenyum samar.
                “Seharusnya kau lakukan itu dari kemarin-kemarin. Bukannya berbuat konyol mencabik-cabik bunga-bunga yang tak berdosa itu,” gerutunya sembari menunjuk kelopak-kelopak yang bertebaran di tanah.
                 “Baiklah. Aku harap pengorbanan bunga-bunga itu tak sia-sia,” sahutku memasang muka menyesal. “Jadi, katakan padaku, apakah kau mau jadi bunga berkelopak ganjil untuk jawaban cintaku?” tanyaku cepat-cepat sebelum keberanian yang telah kukumpulkan berhari-hari ini menguap. Gadis di depanku terperangah. Sepasang matanya yang bak kejora dan terus mengganggu tidurku akhir-akhir ini membelalak lebar. Sejenak kemudian tawanya pecah berderai, membuatku sedikit kesal. Bagiku, ungkapan cinta, bagaimana pun wujudnya, tak patut untuk ditertawakan.
                “Katakan…..,” ucap gadis itu erusaha menahan tawanya. “Bagaimana kau bisa jatuh cinta padaku? Maksudku, kita bahkan samasekali belum kenal,” lanjut gadis itu masih dengan menahan tawa.
                “Aku melihatmu melangkah di jalan ini suatu pagi. Kau memakai baju berwarna biru dengan gambar hati warna merah. Aku tahu itu baju couple, karena aku juga punya satu di dalam lemariku. Aku jadi membayangkan aku berjalan di sampingmu dengan baju yang sama. Entah kenapa saat itu juga aku merasa kaulah jodohku dari langit. Wanita yang tepat yang akan menemaniku sepanjang sisa usiaku” terangku jujur. Gadis itu terdiam, sepertinya sedang berpikir hendak berkata apa.
                 “Terus terang, aku suka caramu menyatakan cinta. Laki-laki lain mungkin hanya akan memetik bunga-bunga itu dan mengikatnya dengan pita merah jambu untuk diberikan kepadaku, bukannya mencabik-cabiknya seperti apa yang kau lakukan,” tutur gadis itu seraya tersenyum geli.
               “Aku yakin kau akan langsung menolak jika aku melakukan cara yang satunya,” sahutku.
               “Bukan berarti dengan cara mencabik-cabik bunga, aku pasti menerima. Ya, kan?” tanyanya dengan nada menggoda.
                “Setidaknya aku mendapatkan secuil perhatianmu,” kataku. “Jadi, apa jawabanmu?”
                “Aku akan menjawabmu dengan cara yang tak biasa juga. Kau pakailah baju couple punyamu besok, tunggu aku di sini. Jika aku muncul dengan baju yang sama, berarti aku menerima cintamu,” jawab gadis itu berteka-teki. Lalu melangkah pergi, dan kembali tawanya pecah berderai.
                “Setidaknya, beritahu aku namamu!” seruku. “Biar aku mudah menyebutnya dalam doaku nanti malam,” imbuhku kembali berseru.
               “Lily…..namaku Lily. Sama seperti bunga yang telah kau cabik-cabik itu!” seru gadis itu tanpa menoleh. Entah itu benar namanya atau bukan. Aku tak peduli, cinta tak butuh sebuah nama. Yang aku yakin, aku akan berada di sini besok, dengan memakai baju couple berwarna biru bergambar hati.
By : Maia Harsanto