Cerita Baju Coupleku

baju couple

Cinta?

Romantis ?  

Bahagia ?

Kamu ?

Cinta adalah kamu , kamu yang selalu memberi kejutan selalu bisa membuat semua momen itu indah dan selalu penuh bahagia. Bersamamu aku mengenal sebuah ketulusan dan kesederhanaan. Bisa mengatasi cibiran dari orang lain dan bisa melewati seribu malam yang hambar. Aku ingin berterimakasih, terimakasih atas candi Boko terimakasih balon biru terimakasih sever quen terimakasih bakso idola terimakasih gopro terimakasij Jogja terimakasih telah memilih aku menerima baju putih yang sama dengan milikmu dan  terakhir terimakasih momen indah yang telah kamu siapkan buat aku meskipun sederhanan ini pertama yang aku terima dalam hidupku.

Disaat hujan itu turun kamu memberikan sebuah bingkisan kecil yang dengan kertas kado yang warna biru dan kamu ucapkan maaf ya aku baru bisa ngasih ini dan maaf hanya warna putih dan tanpa design tapi aku harap kamu ngerti maksudku “ucapnya begitu” Baju putih ini menjadi janji kamu, janji yang pernah kamu sampaikan bahwa suatu saat nanti dari sebuah kaos putih polos akan berubah baju putih panjang dengan tambahan manik mutiara pink dan bunga kecil di bagian leher dengan tambahan riasan muka tatanan rambut dan baju polos putih yang akan berganti menjadi jas putih celana putih (tapi tetep pakek sneakers putih hehehe). Dan setiap aku ingat akan kata-katamu itu selalu ku ucapkan aamiin yarabb.

Sudah 2 tahun ini kamu yang masih tetap mau nemenin aku buat menikmati sunset di bukit paralayang kamu yang masih mau nemenin aku buat makan mau buat ndengerin cerita yang panjang x lebar dari aku yang masih seneng ngeliat senyumku yang selalu mau buat debat dan selalu mau nanganin sifat anak kecil ini.  Aku berharap hubungan pacaran ini tidak hanya berlangsung lama lalu putus tapi aku ingin janji atas baju putih itu jadi ending kita. Jadilah orang yang menanyakan ke ayah buat marry your daughter dan kamu juga yang menyanyikannya. Baju putih yang sama-sama kita miliki ini harus kita jadikan cerita buat history.

 

by : Fitri Kristiani

Hujan dan Cinta Pertama

cinta tak berbalas

Hari-hari terlewatkan dengan lebih banyak hujan. Seperti saat ini. Di langit, mendung masih saja mengapung di atas sana. Selembar tipis diantara putih yang membentang. Deras hujan yang berhenti beberapa menit yang lalu, kini tinggal menyisakan rintik-rintik gerimis kecil sehingga sore berwajah sendu. Bau tanah yang khas menyeruak terbawa angin. Bulir-bulir air pada pucuk-pucuk hijau daun yang berkilau memberi kesan hawa dingin mulai merayap.

Aku masih senantiasa duduk bangku halte yang sempit dikerumuni oleh orang-orang yang sedari tadi berteduh sama sepertiku. Satu per satu orang-orang pergi meninggalkan tempat ini seiring dengan rintikan air hujan yang benar-benar sudah berhenti. Menyisakan diriku yang belum beranjak dari bangku halte ini, berteman dengan headset yang menyumpal kedua telingaku dengan musik kesukaanku. Sepertinya aku tak sendiri berada di halte ini, seseorang yang aku kenal duduk tak jauh di bangku yang sama denganku.

Matanya yang tajam fokus memperhatikan jalanan yang bertolak belakang dengan keberadaanku. Aku tahu, dia tak mengetahui keberadaanku yang duduk tak jauh darinya. Aku sibuk memandangnya yang tengah membelakangiku. Entah sudah berapa lagu kesukaanku yang terlewatkan olehku. Kuharap ia segera mengetahui keberadaanku dibelakangnya dan menyapaku terlebih dahulu.

Aku menjelajahi parasnya, sama seperti yang aku lakukan dulu. Hal yang paling aku suka lakukan bila kami berkumpul bersama dan diam-diam aku mengagumimu. Bibir yang pucat, sepasang alis tebal dan kumis teramat tipis diantara hidung dan bibirmu. Lalu hidungnya yang menghubungkan bibir dengan dahi. Lalu dagunya, lalu pipinya. Lalu matanya yang menyimpan ribuan jarum yang siap menusuk. Tak kulupakan senyumnya yang selalu hangat melunakkan semua jarum yang ada dimatanya.

Tetapi sungguh! Aku sangat merindukan mata itu ketika ia menatapku dengan lembut dan sangat terasa hangat. Dia adalah cahaya terang yang menghipnotisku sejak aku masuk di tingkat pertama SMA. Dia adalah savana yang berangin lembut tempat putik-putik rumput berayun dan saling bertaut. Seperti itulah aku memandangimu yang sekarang tengah berdiri sambil sesekali memperhatikan arloji ditangan kirimu.

Dia menoleh! Dia menatapku. Memperhatikanku yang tersenyum padanya.

“Rheina, kan?” dia masih mengingatku setelah dua tahun tak bertemu.

Aku mengangguk tersenyum, “Kak Han, apa kabar?” sapaan yang terlalu bodoh keluar dari bibirku ini.

“Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan Rhei?”

“Baik. Kak Han kenapa bisa ada di sini?” tanyaku yang penasaran kenapa dia bisa sampai di halte dekat kampusku. Mengingat dia berbeda kampus denganku.

“Menunggu seseorang,” balasnya singkat. Hanya gumanan yang keluar dari bibirku dan menciptakan keheningan dan kecanggungan diantara kami.

Jika cinta seperti menunggu matahari yang terhalang gelapnya mendung hujan, kurasa setiap waktu yang empat tahun berlalu pantas untuknya. Mungkin bertahun-tahun, tapi hujan kini telah berhenti dan matahariku datang.

Keheningan terlalu lama menyelimuti kami berdua di halte yang tengah sepi ini. Hanya suara bising yang tercipta dari knalpot-knalpot kendaraan berlalu lalang. Kulirik sekilas dirinya yang tengah memainkan ponselnya.

Dia berdehem sepertinya dia sadar aku memperhatikanya.

Dia tersenyum padaku, menampilkan matanya yang menyipit membentuk bulan sabit. Senyuman yang aku rindukan selama ini.

Sebuah sapaan memanggilnya, membuyarkan kekagumanku untuk memandang pahatan indah didepanku. Dia menoleh ke arah suara tersebut, mereka saling mengenal bahkan dia menghampiri perempuan itu dan mengaitkan jemari-jemari kepada jemari perempuan itu.

Mereka menghampiriku. Saling melempar senyum.

“Rhei, kenalkan. Dia Asti, pacar Kak Han.”

Oh, ingatkan aku untuk tidak pingsan di sini dan menangis di depan mereka. Sepertinya pasokan oksigen disekitarku seakan hilang membuatku kesulitan bernafas.

“As, dia Rheina. Adik kelasku di SMA dulu.”

“Asti.”

“Rheina.” Kami saling berjabat tangan, hanya sebentar kemudian terlepas kembali.

“Rhei, kami pergi dulu ya, terima kasih sudah menemani Kakak,” aku mengangguk kecil padanya.

Aku terduduk lemas di bangku halte. Menunduk lesu, meratapi kisah cinta pertamaku yang sekarang sudah memiliki orang lain. Aku kembali menyesali kebodohanku yang hanya bisa menyimpan perasaan ini selama empat tahun ini.

Di langit, mendung masih setia mengapung di atas sana. Tak butuh waktu lama lagi untuk rintikan hujan yang perlahan berubah menjadi derasnya hujan. Membanjiri genangan-genangan air yang tadi mulai mengering.

Bus ku sudah tiba, aku menaikinya. Hujan membawa cinta pertamaku hanyut kedalamnya, mengalir mengikuti kemana hujan akan membawanya pergi menghilang.

Jika aku bilang kalau cinta menunggu matahari yang terhalang mendung dan hujan. Aku menemukan bahwa itu bukan hanya tentang menunggu. Aku belajar bahwa saat matahari memancarkan sinarnya terlalu terang, dia akan bisa membakarmu.

***

Karya : Bhrehita Tri Kusumaningrum

BAJU COUPLE TERAKHIR

cerita romantis bersama pasangan

Ayla Darma Atmaja itulah nama lengkapku. Teman-teman dan karyawan ku memanggilku dengan sebutan Ayla. Setelah 5 tahun bekerja menjadi karyawan, sudah cukup tabungan ku untuk mengundurkan diri dan akhirnya aku membuka sebuah usaha toko baju couple di salah satu area Mall yang paling ramai dan terkenal di Jakarta. Aku wanita yang seharusnya selalu bersyukur akan Anugerah yang Tuhan berikan padaku.Memiliki talenta dalam mendesign dan pemasaran adalah kombinasi yang tepat sesuai dalam bidang usaha yang sedang aku kembangkan.

          Seperti pagi ini, baru buka toko sudah ramai diserbu customer. Menurut pendapat mereka baju couple yang aku jual itu bahan berkualitas bagus, warna dan ukuran  ready stock, gambar dan kata-kata romantis yang aku buat sangat kreatif juga  banyak memberikan diskon.

          Tidak setiap hari berjalan dengan lancar, contohnya pagi ini adalah pagi yang menyebalkan untukku. Tania datang mengampiriku dengan wajah pucat.

“ Mbak Ayla, tolong bantu aku ya !” Tania meminta padaku dengan suaranya yang lirih dan hampir menghilang.

“ Ok…Ok aku bantu. Tapi…jelaskan dulu kamu kenapa dan perlu bantuan apa? Kok sekarang malah pakai nangis segala lebay banget deh ,“ tanya ku dengan wajah penasaran.

“I….itu…itu loh mbak ada mas ganteng mau beli baju couple ukuran nya sudah sesuai tapi warna biru yang diminta stocknya sudah habis mbak, tadi ada yang borong warna itu.” jawab Tania menjelaskan apa yang sedang terjadi di depan.

          Akupun segera ke depan mengikuti Tania yang habis dimarahi pembeli. “Ah gitu aja Tania nangis, Aku tinggal meminta maaf dan kasih jurus ampuh yaitu senyuman manis ku.”gumam ku dalam hati.

“Selamat Pagi mas, mohon maaf baju yang mas pesan sudah habis stocknya.Saya usahakan besok pagi sudah ready,” Sambil memberikan senyuman manis aku meminta maaf pada pembeli yang ganteng itu.

“Kenapa mbak senyum-senyum sama saya? Mbak suka sama saya ? Nggak bisa mbak pokoknya sekarang harus ada, coba mbak cari lagi di gudang,”kata pria ganteng itu dengan nada tinggi penuh emosi, membuat seluruh pengunjug toko menoleh ke arahnya.

          Dari pada emosi lebih baik aku membuktikan ucapanku. Pria itu terus mengikuti ku ke gudang . Aku berjalan perlahan sambil membawa tangga. Ku sandarkan tangga itu dan menaiknya satu persatu agar sampai untuk megecek baju-baju yang tertata rapi di atas rak.

“Gimana mbak ada nggak?,”tanya pria itu dari bawah tangga.

          Mata pria itu terus menatapku membuat aku salah tingkah. “Ah..tapikan dia sudah punya pacar ,”hahahah aku tertawa sendiri dalam hati. “Tapi …sepertinya aku pernah melihatnya tapi di mana ya?,”pikiranku mulai melayang-layang. “GEDUBRAKKK….,”Tubuhku pun terjatuh tepat ya tepat mendarat di pelukan pria itu. Mata kami saling bertatapan.Jantungku berdegup kencang.

“Namaku Aldy, kamu cantik kalau nggak pakai kaca mata dan rambutmu terurai,”kata Aldy saat menangkapku terjatuh.

          Hatiku seperti keluar gambar love saat Aldy menolongku,memujiku.Akupun baru meyadari kalau kaca mata dan ikat rambut ku terlepas. Wajah itu …senyum itu sepertinya aku pernah melihatnya. “ Dia sudah memarahiku dari tadi dan sekarang aku malah memuji dan memikirkannya hedewwww…” aku menghela nafas panjang dan membuyarkan hayalanku.

          Aldy membantuku untuk berdiri karena kakiku terkilir, ia menuntunku ke depan. Setelah aku gerak-gerakkan kakiku akhirnya bisa sembuh. Aldy pun akhirnya meminta maaf dan memilih kaos couple dengan design lain tapi warna tetap biru menjadi piihannya. Aldy pun berlalu dari toko ku. Aku pun beranjak dari kursi menuju food court mall untuk makan siang.Tiba-tiba seorang pria datang padaku ,memelukku sambil menangis. Sumpah siang hari bolong bisa BAPER ( bawa perasaan) seumur hidup belum pernah aku dipeluk lahhhh pacaran aja belum pernah . Saat pria itu melepaskan pelukanya baru ku sadari kalau itu ternyata Aldy. Lebih histeris lagi saat dompetnya terjatuh dan aku melihat nama dalam KTP itu Aldy Prawira.

Aldy pun berhenti menitikkan air mata dan bertanya padaku dengan wajah penasaran “WHY ?.”

“Aldy??? Kamu kah itu ? Aku Ayla Darma Atmaja teman kecil dan sekelas waktu SMP.”

          Aldy berhenti menitikkan air mata dan tersenyum, ia mengingatku. Aldy pun menarik tangan ku dan mengjak ku ke Aldy coffe shop miliknya yang terletak di seberang toko ku. Pantas saja aku seperti pernah melihatnya dan mengenalnya begitu dekat. Kami pun bercerita masa lalu kami dan penyebab tangisannya tadi karena ia baru saja melihat kekasihnya pacaran dengan pria lain dan memutuskan cintanya.

          Sejak itu kami dekat,bercerita dan akhirnya menjadi sepasang kekasih LDR ( Long Distance Relationship ) cinta jarak jauh antara Jakarta dan Canada.

*****

          Angin  bertiup kencang, daun maple mulai berguguran ke tanah yang mulai basah karena rintik-rintik hujan di area makam. Aku mengingatnya,masih sangat jelas dan membekas dihati saat-saat perjumpaan kami sejak kecil, perpisahan kami saat akhir SMP karena Aldy pindah ke Canada, tanpa sengaja kami berdua dipertemukan kembali saat di toko baju couple milikku. Saat-saat indah kami menjalin kasih, sampai akhirnya musim gugur aku terbang ke Canada untuk melepas rindu. Aku menunggunya di café tempat kami biasa bertemu.Aku baru mengabarinya saat sudah tiba di Canada kejutan untuk pacarku.Tapi….saat itu aku yang sangat terkejut. Hp ku berbunyi dari rumah sakit setempat.Aku berlari menerobos lalu lintas, lebih cepat dan tanpa kusadari kakiku yang berdarah karena lecet. Aldy baru diturunkan dari Ambulance ia masih memakai seragam PILOT, di genggaman tangan kirinya sebuah buket mawar putih,digenggaman tangan kananya sebuah kotak cincin dan sebuah surat yang sudah kotor karena terkena darahnya. Aku berterak histeris dan menagis. “Aldy…..”teriakku setelah membaca surat yang ia tulis berisikan teruntuk kamu….aku yang mencintaimu dan ingin melamarmu untuk mendampingiku seumur hidupku.

          Aldy membuka matanya perlahan sebelum masuk ke ruang Operasi dan ia berbisik padaku,” Ayla aku sangat bahagia baju couple yang kamu berikan sangat keren designnya dan romantis. Ayla aku ingin menikahimu, tapi aku sudah tidak kuat.Relakan aku pergi.”Kata Aldy lirih sambil menggenggam tanganku memberikan baju couple miliknya,bunga mawar dan kotak cincin juga surat itu untuk aku simpan.Tangan itu terkulai lemas Aldy meninggalkanku sendiri. Kecelakaan pesawat itu membuat kekasiku pergi untuk selamanya.

***

          Di makam ini aku menangis sepi sendiri daun-dan maple yang melambangkan cinta pun bertebaran di sekitar makam. Aku meletakkan baju couple terakhir kami di makam Aldy. Hanya satu  design di dunia ini hanya untuk kami yang saling mencintai sampai akhir.

TAMAT

By : Melani Sulistia Wati

TAK COUPLE TAK LOVE

cerita romantis

Minggu pagi ini terlihat ramai sekali, terlebih lagi pasar swalayan yang ku datangi ini memang selalu ramai di minggu pagi. Nama ku Asya. Pagi ini aku ingin membeli beberapa benang untuk baju buatan ku. Baju itu kurencanakan untuk hadiah ulang tahun Fazri, kekasih ku. Baju itu sengaja ku buat couple agar terlihat lebih romance dan lebih kompak satu sama lain. Ngomong ngomong soal Fazri, dia adalah kekasih ku sejak dua tahun yang lalu ketika aku duduk di kelas 11 SMA. Bisa di bilang pertemuan ku dengan Fazri adalah pertemuan yang tak biasa. Karena saat itu terjadi konflik tawuran antara sekolah ku dengan sekolah Fazri. Aku sama sekali tidak ingin terlibat, tapi sial nya konflik itu terjadi tepat ketika aku sedang berada di lokasi tempat penyerangan. Karena perasaan ku yang kaget akibat serangan tiba-tiba itu, langsung saja ku sembunyi di gedung kosong yang menjadi tempat sarang burung wallet. Kalau bukan karena situasi yang mendesak, aku tak akan mau sembunyi disana, aku takut. Aku benci mereka, mengapa harus dengan cara kampungan seperti ini hanya untuk menyelesaikan masalah yang menurutku sepele. Rasa takut ku makin bertambah saja saat ku dengar suara jejak kaki seperti datang ke arah ku. Langsung saja kuambil batang kayu dan ku sembunyi di balik pintu. Dan saat orang itu datang. Ahh!! Teriaknya kesakitan. Orang itu berlumur darah dengan seragam sekolah nya. Ternyata, dia adalah siswa sekolah yang sedang tawuran dengan ku. Dia terlihat sangat kesakitan sampai aku tak tega melihat nya. Ku hampiri dia dan langsung ku keluarkan sapu tangan dan antiseptik yang selalu kubawa kemana mana. Dia pun terkaget melihat ada seseorang selain diri nya di dalam gedung wallet itu.

            “Gua pikir lo salah satu dari mereka. Tapi ternyata bukan” kalimat pertama yang dia ucapkan saat aku mengusap wajah nya yng penuh darah

            “Darimana lo tahu kalau gue bukan salah satu dari mereka?” tanya ku

            “Ya masa ada musuh yang ngebantu lawan nya sendiri”

            “Kalau gue ternyata salah satu dari mereka gimana?”

            “Gak mungkin lah cewek cantik kaya lo ikutan jadi brandal kaya mereka”

            Astaga. Apa dia baru saja menggombal. Menyebalkan tapi menyenangkan. Itulah awal pertama aku berjumpa dengan Fazri. Dia memang bukan laki hebat seperti yang lain. Dia hanya laki-laki biasa. Tapi celaka nya sejak pertama ku bertemu dengan nya, rasa nya ada sesuatu dalam diri nya yang membuat ku tertarik. Terutama karena sifat humoris dan ketengilan nya itu.

            Akhirnya, setelah dua minggu ku buat baju couple ini selesai juga. Tak sabar rasanya ingin ku berikan kepada Fazri. Yah meskipun ulang tahun nya dua hari lagi tapi rasa nya seperti dua tahun saja. Menunggu memang bukan lah hal yang menyenangkan untuk dijalani. Kringggg… ah handphone ku berbunyi,  dan tentu ini telpon dari Fazri. Langsung saja kuletakkan box kado itu diatas tumpukan pesanan baju butik ku. Aku senang hari ini dia mengabri ku. Karena beberapa hari ini, dia sibuk dengan tugas tugas kuliah nya. Aku pun sibuk dengan pesanan pesanan orang di butik. Rindu. Setelah lama berbincang sampai tak sadar kalau sudah sore. Ku bergegas untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, setelah itu baru ku mandi.

            Malam ini aku terus teringat dengan Fazri. Mungkin masih terbawa suasana telepon tadi. Langsung saja ku hampiri kado yang akan ku berikan pada nya. Tapi ku cari tidak ada. Ya ampun, ku cari kesana sini tetap tidak ada. Lalu kutanya Bi Asih apa dia melihat box berwarna biru. Tapi dia bilang semua box sudah dibawa Kang Asep untuk dikirim. Apa! Jangan jangan box ku terbawa juga!  Ahh itu dia Kang Asep sudah pulang. Langsung ku tanyai kang asep dimana box ku. Betapa lemas nya aku ketika tahu kalau box itu sudah tercampur dan sudah selesai dikirim. Apa harus ku buat baju yang baru? Tapi tidak mungkin bisa ku selesaikan dua baju dalam dua hari. Tanpa pikir panjang, mau tidak mau, aku akan susul dan kucari ada dimana baju itu. Keesokan pagi, aku langsung berangkat menuju rumah rumah yang memesan baju padaku. Tapi sampai sore begini, tidak ada satu rumah pun yang menerima box itu. Dan sial nya lagi, seseorang menabrak ku hingga catatan nama orang orang yang memesan baju ku itu tercebur di selokan. Aku tak tahu lagi harus mencari dimana? Tapi, aku gak boleh putus asa. Aku masih ingat beberapa rumah yang belum kudatangi. Hari mulai malam. Ku putuskan untuk mencari box itu besok.

            Selasa pagi. Ya ampun. Nanti malam adalah hari ulang tahun Fazri. Apa yang harus ku lakukan? Langsung ke bergegas ke kamar mandi dan segera pergi untuk mencari box spesial itu. Tapi hari ini aku juga belum mendapat kan box itu. Aku merasa kecewa sekali. Baju yang sudah berminggu-minggu kubuat dengan pebuh cinta hilang begitu saja karena kelalaian ku sendiri. Bagaimana ini? Hari sudah gelap. Bahkan azan maghrib pun sudah berkumandang. Apa yang harus kuberikan pada Fazri? Semangat Asya! Kamu pasti bisa menemukannya! Tapi hari semakin malam. Fazri trus menelpon ku. Jam sudah menunjukan pukul 21.00. mungkin acara nya sudah hampir selesai. Maafkan aku Fazri mengabaikan telpon mu. Akhirnya dengan lenggang tangan ku putuskan untuk pergi ke acara ulang tahun Fazri dengan taxi. Ku telpon Kang Asep untuk langsung saja ke rumah Fazri agar nanti ketemu disana saja untuk mengantar ku pulang

            “Akhirnya, yang di tunggu tunggu datang juga” ucap teman teman Fazri

            “ Loh kamu kenapa? Kok kusut gitu? Keliatan capek lagi? Kenapa Kang Asep dateng duluan?” tanya Fazri khawatir

            “Maaf ya aku ga bisa kasih apa apa buat kamu. Padahal aku udah  buat sesuatu yang spesial buat kamu. Tapi ga sengaja hilang. Udah dua hari ini aku cari keliling keliling. Tapi tetep ga ada” jawabku lesu

            “Gak apa apa kok. Kamu udah dateng aja aku udah seneng”

            “Coba aja box baju itu gak hilang”

            “Maksud kamu box biru yang isi nya baju couple itu?” tangan nya menunjuk kesalah satu tumpukan kado

            “Hah? Itu kan box ku! Itu kado aku untuk kamu. Kamu dapet dari mana?”

            “Kan Kang Asep yang ngasih kemaren”

            “Apa? Akang yang ngasih?” tanya ku heran kepada Kang asep

            “Abis nya alamat nya buat den Fazri. Ya saya anter non kesini” jawab kang Asep

            “Akang kenapa gak bilang? Aku tuh udah cape kasana kemari cari box ini tau”

            “Tadi pagi saya mau bilang ke non Asya, tapi non buru buru pergi”

            Ya ampun, akhir nya ketemu juga baju couple ku. Meskipun agak kesal dengan Kang Asep, tapi gak apa apa deh. Yang penting, baju itu udah ada di Fazri.

By :  Caroline Noer Asy’ary

CINTA SEHANGAT SWEATER

cinta baju couple

Deras hujan bulan Desember membasahi sepanjang jalan. Ku lihat beberapa orang juga ikut berteduh di gubuk kosong bekas toko lama. Semua nya adalah pengendara roda dua. Mereka membawa keluarga, teman, ada juga yang hanya sendiri sambil membawa barang dagangan nya. Mereka semua terlihat merungkuk kedinginan. Lain denganku, karena dengan sweater hangat yang ku kenakan ini, aku merasa hangat. Meskipun agak dingin sedikit, hingga aku memasukan tangan ku ke kantung celana agar lebih hangat. Hujan, peristiwa yang mengandung banyak arti bagi orang orang. Bagi ku juga. Bagi ku, hujan tidak sekedar hanya tetesan air yang jatuh ke bumi, atau hanya aliran air yang jatuh dari langit. Hujan bulan Desember ini rasa nya seperti membawa ku ikut mengalir dalam deras nya kenangan. Kenangan indah bersama seseorang. Yang dengan nya hari ku selalu penuh tawa, yang karena nya hari ku selalu terganggu dengan rindu rindu. Rindu akan hangat kehadiran nya di sisi ku. Seperti hangat nya sweater yang ku gunakan ini. Hujan dan sweater. Dua hal yang dulu pernah menjadi bagian penting dalam memori hidup.

            Saat itu, tepat nya satu tahun yang lalu. Ketika aku datang ke Shirt Goal’s, salah satu toko baju ternama, terbesar, dan termodis bagi kalangan remaja seusia ku. Saat itu tepat hari terakhir ujian semester ganjil di kelas 11. Aku dan teman teman ku memutuskan untuk pergi berbelanja ke Shirt Goal’s untuk merayakan selesai nya kepeningan yang kami rasa setelah satu minggu mengikuti ujian. Awal rencana, aku ingin membeli sebuah jaket karena musim hujan sudah akrab menyapa. Tapi seperti nya, aku sudah memiliki banyak sekali jaket yang terjejer di lemari gantung. Baru saja hendak ku berbalik arah dari kumpulan blok jaket jaket di pojok toko. Namun, mata ku tertarik melihat sepasang sweater unik di pojok blok. Tapi sepertinya sweater itu di peruntukkan kepada pasangan atau yang biasa di sebut “couple”. Kutanya penjaga toko itu, apa aku bisa membeli salah satu nya saja. Karena kulihat model nya yang belum ku punya, dan terlebih lagi warna nya biru muda. Akhirnya, mereka membiarkan aku membeli nya walau hanya setengah potong.

            “Padahal kalau mbak beli sepasang bisa dapet diskon loh! Ajak aja pacar nya, mbak”. Tawar penjaga kasir

            Langsung saja ku bergegas pergi meuju teman teman ku di parkiran karena takut ketahuan kalau aku ini JOMBLO. Hehe.. bagi ku itu tidak masalah. Setelah selesai, kami pun pulang membawa belanjaan masing masing. Akhirnya, bisa istirahat juga. Tak sabar aku tuk memakai sweater ini besok untuk jalan bersama Rina dan Karin.

            Minggu pagi yang mendung. Cocok sekali untuk aku memakai sweater ini. Tapi kuharap, mendung biarlah mendung asal jangan sampai hujan. Kalau tidak, bisa batal rencana ku jalan dengan Rani dan Karin. Ku tunggu mereka di bawah pohon kamboja besar di taman Jl. Asoka. Sudah pukul 10.00 tapi mereka belum datang juga. Padahal langit sudah semakin hitam saja. Ku buka handphone dan ku lihat notif masuk. Pesan dari Rani! Uh, tidak jadi pergi? Kenapa tiba tiba sekali? Padahal aku sudah menunggu selama ini. Kesal! Dengan ajah tertekuk ku beli saja bajigur hangat yang lewat di taman. Mungkin bisa menenangkan rasa kesal ku ini. Ku balik ke tempat duduk di bawah pohon kamboja besar tadi. Tapi ketika ku membalikan badan. Awww!!! Seseorang menabrak ku dan menumpahkan bajigur yang ku bawa hingga tangan ku terasa panas. Siapa orang yang tiba tiba menabrak ku ini. Membuat hari ku semakin sial saja.

            “Maaf, maaf! Gua ga sengaja. Lagian lo balik badan nya tiba tiba sih” ucap nya.

            What! Dia bilang aku balik badan dengan tiba tiba? Jelas jelas dia yang menabrak ku dengan tiba tiba. Di tambah lagi, ya ampun! Sweater yang dia pakai sama seperti yang aku pakai. Persis seperti pasangan dari sweater ini yang kemarin ku beli di toko. Selama hidup, aku gak pernah suka di samakan oleh siapa pun. Camkan itu!

            “Lepas sweater itu!” perintahku. “cepat lepas!”

sweater couple

            “Apa? Lo udah gila ya? Masa gua buka bukaan disini. Disana aja yuk, lebih sepi” jawab nya dengan santai

            Dasar menyebalkan! Kami terus bertengkar mempermasalahkan sweater ini. Sweater dengan arah panah ke kanan dan ke kiri dengan bertuliskan masing masing “That’s my girl” dan “That’s my boy”. Sampai akhir nya penjual bajigur itu bilang

            “Neng, bajigur nya mau diganti? Apa sekalian juga mau dibikinin buat pacar nya?”

            “Dia bukan pacar saya!!!” kami teriak berbarengan

            “Loh, bukan pacar tapi ko mesra gitu? Ade kakak an ya? Atau terjebak friendzone? Atau TTM? Atau…atau … atau….” oceh tukang bajigur

            Langsung saja ku pergi meninggalkan mereka. Hari ini benar benar Bad Day. Keesokan harinya saat upacara bendera, kulihat orang menyebalkan itu berdiri di depan lapangan. Hmm. Kukira dia dihukum karena sifat nya yang tengil. Tapi teernyata, dia adalah calon ketua OSIS periode berikutnya? Apa aku gak salah liat? Ga mungkin si tengil itu jadi ketua OSIS kan? Sudah pasti kalah lah. Aku yakin. Lihat saja nanti. Pasti kalah. Pasti kalah… sepulang sekolah sengaja aku mampir keruangan OSIS untuk melihat hasil suara pemiilihan. Dan, hasilnya si tengil itu menang! What! Bagaimana bisa? Sejenak kulihat banyak sekali foto foto dan piala piala penghargaan atas nama dirinya. Apa aku sudah salah menilai si tengil itu ya?

            “Ngapain lo ngeliatin foto gua kaya gitu? Naksir? Lo pasti nyesel ya udah marah marahin gua kemarin?” lagi lagi dia datang dengan tiba tiba

            “Hah? Eng.. engga kok engga, itu tadi aku mau ini, anu..” duhh jadi salting kan gara gara salah judge orang. Semoga muka aku ga merah

            “Gua Ardhan” dia menjulurkan tangan nya “ kalo lo?

            “Namaku Nina” aku membalas jabatan tangan nya

            “Oh.. Nina. Sering ngantuk ya?”

            “Maksudnya?”

            “Nina bobo.. ohh nina bobo.. kalau tidak bobo digigit Ardhan”

            “Hahaha, emang nya kamu suka gigit”

            “Hmm, engga sih. Tapi kalau kamu suka bisa aku jadiin hobi”

            “Hobi gigitin orang?”

            “Hobi gigitin Nina”

            “Hahaha.. bisa aja”

            Itulah percakapan akrab aku yang pertama kali dengan Ardhan. Ardhan, si tengil yang gak sengaja sweater nya couple dengan ku. Semenjak itu, aku mulai dengan Ardhan. Aku tak tahu mengapa, tapi kehadiran Ardhan membawa hari hari ku menjadi penuh tawa. Sifat nya yang humoris namun tetap dewasa membuat aku merasa nyaman di dekat nya. Sampai saat ini dia…

            “Nih, bajigur nya” tiba tiba Ardhan mengacaukan khayalan indah ku

            “Makasih buat bajigur dan buat pengacau khayalan” jawabku

            “Khayalan? Hujan kaya gini ga boleh banyak ngelamun, entar kesambet!”

            “Enak aja, biari kali. Lagian lama banget sih Cuma beli bajigur doang”

            “Iya maaf, abis ngobrol sama tukang bajigur. Kata nya dia mau ganti bajigur yang waktu itu tumpah”

            “Serius? Itu kan udah lama banget udah satu tahun yang lalu”

            “Ya, waktu itu kita sama sama pakai sweater ini. Bedanya dulu pacar dugaan, tapi sekarang…”

            “Sekarang apa?” tanya ku menggoda nya

            “ Now, you are my girl, you are my special little girl”

            Setahun sudah kujalani hubungan dengan Ardhan. Dan semoga tak sampai tahunan saja. Aku akan mencintai nya sampai keturunan ku yang ke tujuh memiliki tujuh turunan yang mempunyai tujun turunan.

By :  Caroline Noer Asy’ary

KISAH NYATA MY LOVELY

cerita insprasi

Ini kisah nyata yang kualami saat ini, di kehidupan yang fana ini. Mungkin ini jauh dari kata romantis. Tapi romantis ini ku tujukan untuk putriku tersayang. My little angel yang telah mendahului kami untuk menempati syurgaNya.

Rabu, 08 november 2017 09.00 am
Di sebuah lorong yang sepi akan pasien dari sebuah klinik. Hanya aku dan suamiku yang berada di ruang rawat untuk menantikan kelahiran anakku yang pertama. Tak lama kemudian dokter pun memintanya untuk mengurus administrasi pendaftaran dan obat-obatan.
Sendirilah aku di ruang ini.

WP_20170302_13_40_19_Pro (1)

Awal mulanya baru pembukaan 2. Ku pikir sampai pembukaan 10 tidaklah menyakitkan. Waktu berlalu begitu lama kurasa dan semakin menyakitkan. Aku menelpon ibuku untuk menemaniku kebetulan klinik tsb tidak jauh dari rumah dan kami memutuskan pergi berdua kemudian ibuki menyusul. Suamiku belum juga selesai karna mengantri untuk mendaftar.
Sekitar Pkl 11.30 am aku berada di luar alam sadar dan teriak sekeras nya. Entah jam berapa saat itu, aku tidak memperdulikan pasien lain ruang sebelah atau di ruangan lain.
Ibuku datang, tak lama suamiku pun datang,
‘aku teriak, meracau selama pembukaan terjadi. Rasanya seperti tulang rusuk ku dipatahkan bersamaan. Bahkan disentuh pun terasa sangat menyakitkan

IMG-20170921-WA0001

‘suamiku: istighfar sayang 😭 jangan nangis.. istighfar.
Aku meremas gengggaman tangannya. Tak pernah kulepaskan.
Tetap saja aku teriak dan meracau tak jelas.

Seketika pkl 14.30 barulah bidan datang untuk menangani. Entah kemana mereka saat aku berteriak, sama sekali tidak ada tindakan/pengecekkan berkala. Entah pukul berapa waktu itu aku tak mampu membuka mata lagi karna lelah berteriak.

Suamiku disampingku disaat detik-detik melahirkan anak pertamanya, bagiku itu moment romantis yang kualami.
Na’as bayiku tak tertolong, seketika tak sampai 1 jam dia hidup di dunia.
Dia menitipkan malaikat mungil, Dan Dia mengambilnya kembali. Mungkin tuhan punya rencana indah untukku dan suamiku. Mungkin tuhan memberikan banyak waktu untuk kita pacaran lagi.
Mungkin tuhan mengajarkan kita tentang arti kehilangan.

Ariqa namanya..
Cerita ini untuk putriku tersayang.
Dia Yaa Rahiim (maha penyayang)
Menitipkan janin dalam rahimku 9 bulan penantian panjangku dan membawanya kemanapun. Membayangkan kisah indah kelahiran anakku. Hingga ku lahirkan ke dunia. Tak sempat ku memeluk mencium nya.
Tuhan.. Titipkan salam sayang peluk rindu untuk putriku..

By : Aikokom

Tentang Kelopak Bunga Lily dan Baju Biru Bergambar Hati

true love baju couple

 

              “Aku memperhatikanmu,” suara seorang perempuan membuatku mengalihkan perhatian dari apa yang sedang kukerjakan. Aku mendongak, dan mendapati gadis itu berdiri sejarak sepelemparan batu dariku. Kedua tangannya bersedekap, sementara sepasang  matanya memandangku menyirat tanya.
             “Aku?” tanyaku memastikan kata-katanya ditujukan padaku.
             “Iya, kamu, dan apa yang kau lakukan pada bunga-bunga itu,” jawab gadis itu. “Tapi aku tak mengerti, mengapa kau lakukan itu.”
             “Ini?” sahutku sambil menunjuk kelopak-kelopak bunga yang berserakan di sekitarku. Kupetik sekuntum bunga yang masih bergelayut di induknya. “Kau lihat ini ! Dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku……” aku merapal berulang kali seraya mencabut kelopak bunga yang kupetik satu per satu. Gadis itu menatapku sepertinya belum mengerti.
             “Aku sedang mencari jawaban atas cintaku,” terangku mencoba menjawab kebingungannya. “Kau tahu, sudah puluhan bunga kupetik, dan selalu berakhir dengan dia tak mencintaiku,” kesahku. Gadis itu tertawa geli.
              “Konyol, mengapa tak kau tanyakan langsung saja padanya, dia menerima cintamu atau tidak?” tanyanya kemudian.
               “Suatu saat, aku akan menanyakan langsung padanya. Tapi tidak sekarang, belum saatnya,” jawabku. Kupetik sekuntum bunga lagi. Gadis itu menunjuk bunga di genggamanku.
              “Kurasa  aku tahu masalahmu. Itu jenis bunga berkelopak genap. Kau akan tetap berakhir di kalimat yang sama. Kenapa tak kau balik saja urutan kalimatmu, atau kau cari saja bunga lain yang berkelopak ganjil?” saran gadis itu. Aku menggelengkan kepalaku.
               “Kau tak mengerti. Bukan begitu aturannya. Aku harus bertahan pada bunga ini sampai kutemukan kelopak yang tak biasa. Kelopak yang ganjil. Karena cintaku ini juga tak biasa,” terangku. Sekarang gantian gadis itu yang menggelengkan kepalanya.
                “Kau benar, aku tetap tak mengerti,” kata gadis itu seraya beranjak dari tempatnya berdiri, lalu melangkah menjauhiku. Aku mencuri pandang sosok gadis itu dari belakang. Tiba-tiba gadis itu berbalik, aku buru-buru menunduk lagi dan pura-pura kembali sibuk mencabuti kelopak bunga.
              “Aku harap kau beruntung!” kudengar dia berseru. Aku mendongak, lalu mengacungkan dua jariku sebagai tanda terimakasih. Gadis itu membalas dengan lambaian tangan, lalu kembali meneruskan langkahnya. Makin jauh, namun sesuatu dari dirinya tak mau beranjak dari tempatku berada.
pacar romantis baju couple
              “Ahaaaa! Akhirnya kau kehabisan bunga untuk kau cabik-cabik, kan?” gadis itu berdiri hanya tiga langkah dariku. Matanya berbinar, sepertinya pemandangan aku yang telah kehabisan bunga membuatnya bahagia.
              “Yahh, seperti yang kau lihat. Tak ada lagi bunga yang tersisa di pohon ini,” sahutku tanpa semangat. “Dan aku tak juga menemukan bunga berkelopak ganjil.”
               “Jadi bagaimana sekarang?” tanya gadis itu, raut wajahnya menunjukkan antara ikut prihatin dan penasaran.
                “Sepertinya sudah tiba waktunya aku menanyakan langsung padanya apakah dia menerima cintaku atau tidak,” terangku. Gadis di depanku tersenyum samar.
                “Seharusnya kau lakukan itu dari kemarin-kemarin. Bukannya berbuat konyol mencabik-cabik bunga-bunga yang tak berdosa itu,” gerutunya sembari menunjuk kelopak-kelopak yang bertebaran di tanah.
                 “Baiklah. Aku harap pengorbanan bunga-bunga itu tak sia-sia,” sahutku memasang muka menyesal. “Jadi, katakan padaku, apakah kau mau jadi bunga berkelopak ganjil untuk jawaban cintaku?” tanyaku cepat-cepat sebelum keberanian yang telah kukumpulkan berhari-hari ini menguap. Gadis di depanku terperangah. Sepasang matanya yang bak kejora dan terus mengganggu tidurku akhir-akhir ini membelalak lebar. Sejenak kemudian tawanya pecah berderai, membuatku sedikit kesal. Bagiku, ungkapan cinta, bagaimana pun wujudnya, tak patut untuk ditertawakan.
                “Katakan…..,” ucap gadis itu erusaha menahan tawanya. “Bagaimana kau bisa jatuh cinta padaku? Maksudku, kita bahkan samasekali belum kenal,” lanjut gadis itu masih dengan menahan tawa.
                “Aku melihatmu melangkah di jalan ini suatu pagi. Kau memakai baju berwarna biru dengan gambar hati warna merah. Aku tahu itu baju couple, karena aku juga punya satu di dalam lemariku. Aku jadi membayangkan aku berjalan di sampingmu dengan baju yang sama. Entah kenapa saat itu juga aku merasa kaulah jodohku dari langit. Wanita yang tepat yang akan menemaniku sepanjang sisa usiaku” terangku jujur. Gadis itu terdiam, sepertinya sedang berpikir hendak berkata apa.
                 “Terus terang, aku suka caramu menyatakan cinta. Laki-laki lain mungkin hanya akan memetik bunga-bunga itu dan mengikatnya dengan pita merah jambu untuk diberikan kepadaku, bukannya mencabik-cabiknya seperti apa yang kau lakukan,” tutur gadis itu seraya tersenyum geli.
               “Aku yakin kau akan langsung menolak jika aku melakukan cara yang satunya,” sahutku.
               “Bukan berarti dengan cara mencabik-cabik bunga, aku pasti menerima. Ya, kan?” tanyanya dengan nada menggoda.
                “Setidaknya aku mendapatkan secuil perhatianmu,” kataku. “Jadi, apa jawabanmu?”
                “Aku akan menjawabmu dengan cara yang tak biasa juga. Kau pakailah baju couple punyamu besok, tunggu aku di sini. Jika aku muncul dengan baju yang sama, berarti aku menerima cintamu,” jawab gadis itu berteka-teki. Lalu melangkah pergi, dan kembali tawanya pecah berderai.
                “Setidaknya, beritahu aku namamu!” seruku. “Biar aku mudah menyebutnya dalam doaku nanti malam,” imbuhku kembali berseru.
               “Lily…..namaku Lily. Sama seperti bunga yang telah kau cabik-cabik itu!” seru gadis itu tanpa menoleh. Entah itu benar namanya atau bukan. Aku tak peduli, cinta tak butuh sebuah nama. Yang aku yakin, aku akan berada di sini besok, dengan memakai baju couple berwarna biru bergambar hati.
By : Maia Harsanto

Ketika Berpakaian Couple

baju couple romantis
Suatu ketika saya ada undangan ke acara pernikahan bersama suami saya. Saya bingung mau pakai baju apa. kemudian ada ide pakai baju couple. Saya pakai gamis dan kerudung abu dan suami pakai jubah dengan bahan dan model yang sama. Memakai pakaian couple itu seperti hal yang aneh, karena sebelumnya kita jarang pakai couplean. Hari itu adalah hari yang romantis karena berpakaian couple, seperti pasangan yang akur dan setia. Padahal kita memang jarang berkumpul dan kondangan juga. bahkan ada tetangga yang bilang ” mau kemana nih kok tumben pakai pakaian rapi dan serasi couplean lagi ga biasanya ?”. saya jawab aja ” mau kondangan ke pernikahan temen.” dan ada juga yang nanya dan ingin pakaian seperti kami. ”、dimana nih belinya dan berapa? tanya tetanggaku yang suka kepo. saya hanya jawab ” ya di toko mana aja deh. ” bahkan mertua pun melihat dan bertanya mau kemana. alhasil kami jawab ” kondangan”. itu adalah pengalaman memakai pakaian couple pertama kalinya. dan pernah kami memakai pakaian biasa dan warna yang sama.aku  pakai atasan begitu pula suamiku. seperti romeo dan juliet . aduh saudaraku pada iri. so sweet.
foto romantis baju couple
kini aku punya anak. ingin rasanya pakai pakaian couple dan bingung ukuran dan bahan  yang pas buat anakku. dan aku tanya temen dan harganya lumayan karena mungkin kualitasnya yang bagus dan ada ongkos kirimnya juga. saya pun melihat iklan di internet model dan gambarnya bagus- bagus.
 waktu itu saya belum ada uang buat beli pakaian couple itu. saya mencoba menabung untuk bisa membelinya. tapi sayangnya karena kebutuhan ekonomi kami yang sedang surut akhirnya saya tidak jadi membeli pakaian couple itu.
ketika itu saya melihat ada pasangan suami istri yang membawa empat orang anaknya dengan memakai pakaian couple. aduh hatiku merasa iri ingin seperti mereka. saya hanya berdoa bisa memiliki pakaian couple keluarga seperti mereka itu. semoga aja suatu saat nanti ada rezeki untuk bisa beli pakaian couple keluarga amin.
nah inilah cerita tentang baju couple dari saya. semoga cerita ini menjadi pelajaran dan inspirasi bagi pembaca.
By: Siti Rahmatun nazilla