MENDADAK COUPLE

“Mendadak Couple?

Aku masih bisa mencium bagaimana aroma yang ia tinggalkan melekat bebas

Aku masih ingat bagaimana rupanya dibalut dengan pakaian indah merona

Aku masih melihat secercah pesona terpancar dari pahat wajah yang membelenggu sukma

Aku  masih merasa mencintai dirimu seindah nada-nada simfoni

Pagi ini cuaca terasa sangat cerah dan otomatis membuat perasaanku jauh dari rasa gundah gulana. Aku bahagia sehingga sedari tadi senyumku mengembang begitu saja di sudut kampus memperhatikan orang yang berlalu lalang di sekitarku. Biasanya aku sangat kesal untuk pergi ke kampus di saat mahasiswa lain masih menjalankan liburannya dengan ‘khidmat’, tapi kali ini berbeda, aku justru sangat ceria. Bagaimana tidak? Sedari tadi aku sudah bertemu dengan sosok yang selama ini kucinta dalam diam. Sosok yang selama ini kuperhatikan dari kejauhan. Sosok yang selama satu tahun lamanya mengisi hari-hariku tanpa pernah dia tahu. Sosok yang jika kutatap matanya akan menciptakan rasa nyaman serta teduh tiada tara.

Namanya Rama. Barama. Aku lebih suka memanggilnya sayang (secara diam-diam tentu saja). Aku mengenalnya setahun lalu saat hari pertamanya kuliah di kampus yang sama denganku. Wajahnya tidak terlalu tampan, tapi ia manis. Sangat manis. Mata hazelnya memiliki tatapan teduh dan menenangkan, kulitnya yang berwarna coklat seolah mempertegas ke-manly-annya, juga hidung mancung dan senyum manis merona menghiasi wajahnya. Satu lagi, wajah itu selalu bersemu kemerahan jika ia sedang tersenyum malu atau menahan tertawa. Indah sekali bukan?

Aku pernah berbicara dengan Rama beberapa kali, itupun hanya karena ada hal penting. Selama ini, aku hanya terus berkhayal untuk selalu bisa bercengkrama dengannya, makan bersama, jalan bersama, pakai baju yang juga sama. Tapi tentu itu hanya ilusi semata.

“Woy! Ngeliatin Rama mulu,” tegus Elia sahabatku yang mengetahui kisah cinta diam-diamku pada Rama.

“Haha iyalah. Tuh liat. Ganteng banget ya dia pakai baju panitia,” jawabku tanpa menggalihkan pandangan dari Rama yang sedang sibuk mengatur spot-spot khusus bagi mahasiswa baru.

“Dia juga panitia?” tanya El.

“Hooh. Kalau engga, ngapain doi di sini?” balasku dengan nada sedikit kesal.

Aku dan Rama secara tidak sengaja tergabung menjadi panitia ospek selama 3 hari kedepan. Meskipun berada pada divisi yang berbeda, tapi aku tetap termotivasi untuk rajin-rajin pergi ke kampus meski jadwal perkuliahan belum dimulai.

“Gerah ya ini baju,” ucap Elia lagi sembari mengipaskan kertas yang ia pegang ke tubuhnya.

“Iya. Tapi gue suka,” balasku sembari tersenyum.

“Kenapa? Warnanya ya? Ah iya sih warnanya bagus,” jawab Elia sekenanya.

“Bukan,” ucapku lagi. “Tapi karena selama 3 hari berarti gue bajunya couplean sama Rama.”

“Kan semua juga sama?” tanya Elia bingung.

“Ya kalian semua gak gue anggap. Pokoknya yang pake baju ini cuma gue sama Rama,” lalu meninggalkan Elia begitu saja.

Mungkin aku sudah gila. Tapi siapa yang peduli sih? Intinya aku bisa pakai baju samaan dengan Rama otomatis aku sudah menganggap baju kami kembaran alias couplean dan semoga kami memang bisa jadi pasangan.

***

Kisah cintaku terus berlanjut. Aku tetap mencintai Rama meski ia tak pernah menyadari hal itu bahkan tahu akan kehadiranku. Selama ini, aku tidak bisa melihat pria lain selain dirinya. Nyatanya, suka yang kurasa semakin lama berubah menjadi perasaan cinta juga sayang yang begitu dalam untuknya. Segala perjuangan dan pengamatanku selama ini dengan cara mencari tahu jadwal-jadwalnya, hafal segala informasi tentangnya, mengikutinya pulang, mencari cara agar terlihat ada, berusaha selalu bersama dalam segala kondisi, mengirimkan berbagai kado kecil saat dia ulang tahun. Cintaku pada Rama mungkin sudah tercakup aneh dan tak masuk akal. Entah mengapa aku mau-mau saja menanti hingga kini.

“Cepet ungkapin, sebelum keduluan orang lain,” saran Elia padaku.

“Belum waktunya,” jawabku santai.

“Mau kapan lagi? Bentar lagi lo lulus dan ninggalin ini kampus. Berarti juga ninggalin dia.”

“Yah, gue bakal ngungkapin di hari kelulusan gue. Gue udah ngatur rencana,” senyumku lagi.

“Gimana?” tanya Elia dengan tampang –kasih tau gue dong, gue kepo nih-

“Jadi nanti di hari kelulusan gue bakal ngajak dia ketemuan. Berdua. Cuma berdua dan ga boleh ada yang tau selain gue sama dia, yah sama elo deh sekarang. Terus kalau emang dia datang, gue bakal ngungkapin segalanya. Soal penantian gue, perasaan gue, perjuangan gue, semuanya. Tapi gue minta dia diam aja, gausah jawab apa-apa karena pasti dia nolak gue,” jelasku panjang lebar.

“Yah pesimis amat lu,” cibir Elia.

“Biarin aja. Kan selama ini gue udah cukup senang dengan dia yang diam aja. Jadi biarin terus kayak gitu. Dia cukup diam, biar gue yang berjuang.”

“Gile banget dah,” cibir Elia lagi sambil pura-pura bertepuk tangan. “Awas boong ya.”

“Tenang deh. Catet nih ye. Gue, Oceana Putri bakal menyatakan cinta sama Barama dalam kurun waktu beberapa bulan dari sekarang.”

Aku tidak membual. Aku benar-benar menjalankan hal itu ketika aku dinyatakan lulus dari kampus. Di hari wisuda, tak sengaja aku melihat Rama datang untuk memberikan selamat kepada wisudawan – wisudawati, tak terkecuali padaku.

“Hay kak. Selamat ya,” ucap Rama membuat tubuhku kaku serta jantungku berdegup tak karuan. Ia mengulurkan tangan untuk menyalamiku.

Aku menyambutnya. “Terimakasih,” jawabku lemah. Aku harusnya bisa saja langsung mengajaknya untuk ketemuan nanti malam saat itu. Tapi sayangnya bibirku tidak sanggup.

Setelah Barama berlalu, aku mencoba mengirimkan pesan singkat. Tapi tentu aku mencari tempat agar tidak terlihat Rama lagi. Bisa-bisa aku menjadi malu sekaligus mati kutu sebelum momen mengungkapkan cinta nanti malam.

Oceana : “Hay Ram. Nanti malam bisa ketemu ga? Ada sesuatu yang harus saya sampaikan. Penting banget. Saya mohon kamu bisa dateng ya.”

Klik! Pesan itupun kukirimkan.

Beberapa menit berlalu tidak ada balasan dari Rama. Mungkin sedang sibuk. Aku kembali mengecek pesan yang tadi sudah kukirimkan. Ternyata Rama sudah baca. Mungkin dia tidak mau bertemu sehingga membiarkan pesanku begitu saja.

Tringgg!

Barama : “Nanti malam? Ada apa ya kak?”

Kinerja jantungku makin tidak beraturan dan tubuhku makin lemas juga gemetaran.

Oceana : Saya ga bisa kasih tau sekarang. Nanti malam jam 8 di Alberto’s. See ya!

Barama : “Saya usahakan Kak”

Oke. Bagus. Diusahakan. Kumohon datanglah Ram….

Pukul 8 lewat sedikit Rama datang dengan mengenakan sweater andalannya.  Dia pecinta sweater begitupula aku. Malam ini pun aku memberikannya sweater serta polo shirt yang sama sepertiku. Biar couple gitu biar impianku selama ini tercapai. Ia menerimanya dan langsung mencoba sweater itu. Sangat tampan. Ah Ramaku….

“Jadi ada apa kak?” tanyanya membuka pembicaraan. Aku mendadak tidak bisa berkata-kata melihat dirinya yang begini tampannya malam ini.

“Errr. Gini. Sebelumnya, saya mohon kamu dengarkan semua yang bakal saya omongin. Kalau bisa kamu harus cerna biar ga salah sangka. Oh iya, kamu juga tidak perlu memberi jawaban apapun karena saya yakin nantinya kamu akan bilang gak. Jadi cukup diam dan dengarkan ya,” ucapku memulai pembicaraan. Rama mengangguk.

Aku menceritakan semuanya. Semua kisah dari awal aku melihatnya, menyukainya, hingga mencintainya dan memperjuangkannya. Mimik yang ditunjukkan Rama berubah, terkejut sangat terkejut. Aku yang sempat minder dan ingin ngacir pergi agar tidak harus melanjutkan cerita ini ditahan olehnya. Ia sepertinya jadi penasaran.

“2 hari lagi aku ke kampus buat ngurus ijazah. Kalau emang kamu berniat ngasih jawaban ke aku, kamu pakai kaos ini atau sweater ini ke kampus ya. Aku juga bakal pakai. Tapi, kalau engga juga gapapa. Kamu simpan aja, kenang-kenangan dari aku,” ucapku menutup pembicaraan.

Rama hanya mengangguk lalu pamit untuk pergi. Seperti permintaanku, ia tidak memberikan respon atau satu jawabanpun padaku.

“Maaf sayang aku telat,” suara seseorang di belakangku membuyarkan segala lamunan mengenai kisah cinta di masa lalu. Ah sedang asyik-asyik mengenang memori malah diganggu seperti ini.

“Huh, darimana aja?” tanyaku dengan tampang bete kepada pria yang sudah memasang tampang sok imut dengan kedua tangan tertempel di depan wajah agar aku tidak marah.

“Tadi macet sayang. By the way, happy anniversary!” ucapnya lagi sambil berlutut dan melilitkan sebuah kalung bermata zirconia ke leherku.

Aku memegangi kalung itu. Kurasakan dia semakin mendekat ke telingaku lalu berbisik.

“Mungkin ini anniversary pacaran kita yang terakhir,” bisiknya dengan suara yang sumpah sangat sendu.

“Kenapa?” tanyaku bingung dengan jantung yang berdegup kencang. Apa dia mau meninggalkanku? Padahal aku sedang membayangkan semua hal manis tentang dirinya sedari tadi.

“Karena, selanjutnya kita bakal ngerayain anniversary pernikahan kita.”

o-wajibbaca-32852bded153f83026a6596eb38a2a2e

Ia berlutut lagi. Lalu mengeluarkan sepasang cincin cantik dari kotak biru cantik.

“Menikahlah denganku, Na. Aku mau menjadikan kamu sebagai milikku, istriku, hanya untukku selamanya.”

Aku ikut berlutut lalu memeluknya dengan erat. Tak terasa air mataku mengalir saking terharunya.

“Aku mau Ram,” jawabku.

Ia memelukku kencang. Dan sekali lagi berbisik

“Terimakasih untuk kaos dan sweater itu. Sekarang aku ganti dengan cincin tunangan couple ya.”

Lalu kami tertawa dengan bahagia bersama.

 

BajuCouple Coupleshirts

Instagram.com/bajucouplecom. Menerima Cerita Cintamu (Boleh cerita nyata/fiksi/khayalan). Terbuka Peluang menjadi Reseller. WA 0838-7171-2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *