Hujan dan Cinta Pertama

Hari-hari terlewatkan dengan lebih banyak hujan. Seperti saat ini. Di langit, mendung masih saja mengapung di atas sana. Selembar tipis diantara putih yang membentang. Deras hujan yang berhenti beberapa menit yang lalu, kini tinggal menyisakan rintik-rintik gerimis kecil sehingga sore berwajah sendu. Bau tanah yang khas menyeruak terbawa angin. Bulir-bulir air pada pucuk-pucuk hijau daun yang berkilau memberi kesan hawa dingin mulai merayap.

Aku masih senantiasa duduk bangku halte yang sempit dikerumuni oleh orang-orang yang sedari tadi berteduh sama sepertiku. Satu per satu orang-orang pergi meninggalkan tempat ini seiring dengan rintikan air hujan yang benar-benar sudah berhenti. Menyisakan diriku yang belum beranjak dari bangku halte ini, berteman dengan headset yang menyumpal kedua telingaku dengan musik kesukaanku. Sepertinya aku tak sendiri berada di halte ini, seseorang yang aku kenal duduk tak jauh di bangku yang sama denganku.

Matanya yang tajam fokus memperhatikan jalanan yang bertolak belakang dengan keberadaanku. Aku tahu, dia tak mengetahui keberadaanku yang duduk tak jauh darinya. Aku sibuk memandangnya yang tengah membelakangiku. Entah sudah berapa lagu kesukaanku yang terlewatkan olehku. Kuharap ia segera mengetahui keberadaanku dibelakangnya dan menyapaku terlebih dahulu.

Aku menjelajahi parasnya, sama seperti yang aku lakukan dulu. Hal yang paling aku suka lakukan bila kami berkumpul bersama dan diam-diam aku mengagumimu. Bibir yang pucat, sepasang alis tebal dan kumis teramat tipis diantara hidung dan bibirmu. Lalu hidungnya yang menghubungkan bibir dengan dahi. Lalu dagunya, lalu pipinya. Lalu matanya yang menyimpan ribuan jarum yang siap menusuk. Tak kulupakan senyumnya yang selalu hangat melunakkan semua jarum yang ada dimatanya.

Tetapi sungguh! Aku sangat merindukan mata itu ketika ia menatapku dengan lembut dan sangat terasa hangat. Dia adalah cahaya terang yang menghipnotisku sejak aku masuk di tingkat pertama SMA. Dia adalah savana yang berangin lembut tempat putik-putik rumput berayun dan saling bertaut. Seperti itulah aku memandangimu yang sekarang tengah berdiri sambil sesekali memperhatikan arloji ditangan kirimu.

Dia menoleh! Dia menatapku. Memperhatikanku yang tersenyum padanya.

“Rheina, kan?” dia masih mengingatku setelah dua tahun tak bertemu.

Aku mengangguk tersenyum, “Kak Han, apa kabar?” sapaan yang terlalu bodoh keluar dari bibirku ini.

“Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan Rhei?”

“Baik. Kak Han kenapa bisa ada di sini?” tanyaku yang penasaran kenapa dia bisa sampai di halte dekat kampusku. Mengingat dia berbeda kampus denganku.

“Menunggu seseorang,” balasnya singkat. Hanya gumanan yang keluar dari bibirku dan menciptakan keheningan dan kecanggungan diantara kami.

Jika cinta seperti menunggu matahari yang terhalang gelapnya mendung hujan, kurasa setiap waktu yang empat tahun berlalu pantas untuknya. Mungkin bertahun-tahun, tapi hujan kini telah berhenti dan matahariku datang.

Keheningan terlalu lama menyelimuti kami berdua di halte yang tengah sepi ini. Hanya suara bising yang tercipta dari knalpot-knalpot kendaraan berlalu lalang. Kulirik sekilas dirinya yang tengah memainkan ponselnya.

Dia berdehem sepertinya dia sadar aku memperhatikanya.

Dia tersenyum padaku, menampilkan matanya yang menyipit membentuk bulan sabit. Senyuman yang aku rindukan selama ini.

Sebuah sapaan memanggilnya, membuyarkan kekagumanku untuk memandang pahatan indah didepanku. Dia menoleh ke arah suara tersebut, mereka saling mengenal bahkan dia menghampiri perempuan itu dan mengaitkan jemari-jemari kepada jemari perempuan itu.

Mereka menghampiriku. Saling melempar senyum.

“Rhei, kenalkan. Dia Asti, pacar Kak Han.”

Oh, ingatkan aku untuk tidak pingsan di sini dan menangis di depan mereka. Sepertinya pasokan oksigen disekitarku seakan hilang membuatku kesulitan bernafas.

“As, dia Rheina. Adik kelasku di SMA dulu.”

“Asti.”

“Rheina.” Kami saling berjabat tangan, hanya sebentar kemudian terlepas kembali.

“Rhei, kami pergi dulu ya, terima kasih sudah menemani Kakak,” aku mengangguk kecil padanya.

Aku terduduk lemas di bangku halte. Menunduk lesu, meratapi kisah cinta pertamaku yang sekarang sudah memiliki orang lain. Aku kembali menyesali kebodohanku yang hanya bisa menyimpan perasaan ini selama empat tahun ini.

Di langit, mendung masih setia mengapung di atas sana. Tak butuh waktu lama lagi untuk rintikan hujan yang perlahan berubah menjadi derasnya hujan. Membanjiri genangan-genangan air yang tadi mulai mengering.

Bus ku sudah tiba, aku menaikinya. Hujan membawa cinta pertamaku hanyut kedalamnya, mengalir mengikuti kemana hujan akan membawanya pergi menghilang.

Jika aku bilang kalau cinta menunggu matahari yang terhalang mendung dan hujan. Aku menemukan bahwa itu bukan hanya tentang menunggu. Aku belajar bahwa saat matahari memancarkan sinarnya terlalu terang, dia akan bisa membakarmu.

***

Karya : Bhrehita Tri Kusumaningrum

BajuCouple Coupleshirts

Instagram.com/bajucouplecom. Menerima Cerita Cintamu (Boleh cerita nyata/fiksi/khayalan). Terbuka Peluang menjadi Reseller. WA 0838-7171-2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *