Cerpen Terbaru – Dilamar Orang Tak Dikenal

8

Hari Minggu adalah momen terbaik buat bangun siang. Nggak punya pacar dan nggak punya kerjaan, jadi lebih baik gunakan waktu buat memanjakan diri alias tidur sepuasnya. Begitu yang selalu ada di pikiran Seira. Namun, ada yang beda di hari Minggu kali ini.

“Seira…Seira…bangun!” teriak sang Mama sambil mengetuk pintu kamar Seira.

Setelah lebih dari lima kali, Seira akhirnya mendengar Mama. Dia masih belum bergerak. Beberapa saat kemudian setelah mendengar ketukan pintu yang lebih keras barulah Seira menjawab.

“Iya Ma.”

“Cepet bangun, cepet buka pintu. Ada yang darurat ini,” ungkap Mama.

Dengan rambut yang masih berantakan, Seira membuka pintu. Sang Mama langsung menarik tangan

Seira ke dalam kamar.

“Kamu kok nggak bilang ada yang mau datang melamar. Mama kan nggak ada persiapan. Kamu juga malah belum bangun. Kamu gimana sih?”desak Mama.

“Mama ini bercanda apaan sih. April Mop apa ya?”

“Kok bercanda. Mama serius. Itu lihat siapa yang di depan. Ada Radit dan orangtuannya. Katanya mau melamar. Kamu kok nggak cerita sih udah punya pacar. Setahu Mama kan kamu jomblo akut.”

“Gue mimpi nih kayaknya,” kata Seira sambil memukul pipinya.

“Kok mimpi. Ini beneran. Udah cepet sana mandi. Itu kamu udah ditunggu.”

“Serius Ma? Radit itu siapa? Sumpah aku nggak kenal.”

“Ya mana Mama tahu. Udah cepet mandi terus temui mereka. Nggak pakai lama. 5 menit selesai,”

perintah sang Mama sambil berjalan keluar kamar Seira.

Karena penasaran, Seira akhirnya cuma cuci muka dan ganti baju. Dia datang ke ruang tamu. Ada sosok pria dengan wajah pas-pasan yang udah nggak asing lagi baginya.

“Lhoh Pak Dharma? Kok bisa?” kata Seira dengan nada dan wajah terkejut.

“Lhoh…yang bener namanya Dharma apa Radit ini?”tanya Papa dengan polos.

“Saya biasa dipanggil Dharma saat di kantor. Sedangkan di rumah dan di luar kantor, biasanya saya dipanggil Radit, Om!” jawab si cowok.

Radit memang nggak asing bagi Seira. Mereka sering bertemu di kantin kantor. Hanya saja tidak pernah saling bicar. Mereka hanya saling tahu dan sekadar tersenyum saat bertatap muka. Mereka bekerja di kantor yang sama tapi beda lantai dan beda devisi.

“Begini Nak Seira. Maksud kedatangan kami adalah untuk meminang Nak Seira untuk Radit,” kata Papa Radit.

Seira masih shock dan tidak bisa berkata-kata.

“Kami sangat berharap, nak Seira mau memberi kesempatan kepada anak kami,” lanjut sang Papa.

“Anu Om…ehh maksudnya… Mmm…saya dan Radit juga belum saling kenal. Saya ini tersanjung sekaligus kaget. Jadi, saya bingung mau menjawab apa,” kata Seira.

“Kalau kamu bingung, jawab nanti saja. Aku mau menunggu kok,” kata Radit.

“Aduh…gimana ya? Iya, setidaknya kita saling mengenal dulu lah,” ungkap Seira dengan wajah yang masih kaget.

Lalu, kedua pihak keluarga sepakat untuk membiarkan dua anak muda ini PDKT dulu.
Sejak hari itu, Seira pergi dan pulang kantor bersama Radit. Keduanya juga sering makan siang bersama. Radit mengaku sudah lama tertarik pada Seira, sejak Seira masuk sebagai karyawan baru. Radit terus mencari tahu dan memeperhatikan Seira hingga akhirnya mantap untuk meminangnya tanpa harusPDKT dulu.

Radit merasa tidak PD jika mau mendekati Seira di kantor. Dia lebih suka langsung meminta pada orangtua Seira.

Satu bulan sudah keduanya saling mengenal. Seira merasanya nyaman dan nyambung dengan Radit.

“Se… Hari Minggu besok aku ada undangan nikahan temen kuliah. Kalau kamu mau menerima pinanganku, datang ke taman dekat rumahmu dengan baju ini. Kalau kamu tidak datang itu artinya kamu menolaknya," kata Radit pada Seira di hari Jumat saat dia mengantar Seira pulang.

Seira hanya diam.

“Makasih tumpangannya,” kata Seira sambil masuk ke dalam rumah.

Baju yang diberikan Radit adalah Kutu baru dress batik couple. Radit sudah memesannya di bajucouple.com dua minggu lalu sejak ada undangan yang datang di mejanya.

Baju pasangan itu akan jadi saksi kisah cintanya. Apakah akan happy ending atau sad ending. Dia hanya pasrah.

Hari yang ditunggu tiba. Radit sudah siap dengan kemeja warna hijau yang pasangannya dibawa Seira.

Seharusnya Seira datang pukul 09.00 pagi. Waktu itu sudah pukul 09.15. Seira tak kunjung datang. Radit

sudah mulai was-was. Setelah menunggu satu jam, tepatnya pada pukul 10.00, Seira datang. Dia menghampiri Radit yang duduk lemas di bangku taman.

“Maaf ya calon suami, aku telat. Tadi ribet ngurus rambut nih,” kata Seira.

Radit masih terdiam. Dia kehabisan kata-kata.

“Kamu beneran datang? Ini aku nggak mimpi kan ya? Tadi kamu bilang apa? Calon apa?” ungkap Radit

penuh antusias.

“Cuma cewek bego yang menyia-nyiakan calon suami seperti kamu.”

“Akhirnya aku diterima. Hore..!” teriak Radit.

“Jadi kondangan nggak nih?”

“Ohh iya… Sampai lupa. Ayo..!” jawab Radit dengan semangat dan untuk pertama kalinya dia

menggandeng tangan Seira.

Hendy Suprapto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *