Mr. Perfect

bersamamu

Mr. Perfect

Ribuan bintang kecil itu begitu sempurna bergelantungan dilangit malam. Tak ada keresahan yang terpantul dalam cahaya lembutnya. Setelah cukup lama memandangi keindahan langit malam bertabur bintang, ku alihkan pandangan kearah meja kerjaku. Ku lirik tumpukan kertas di sudut meja. Kutarik nafas  panjang dan ku mulai membacanya satu persatu. Beberapa bulan terakhir aku memang sibuk mempersiapkan launching produk baru di perusahaan tempatku bekerja. sebagai Staff Marketing, tugasku memastikan produk ini sukses dipasaran. Tema produk baru kali ini adalah baju couple yang ditargetkan akan menebus pasar dunia, dan aku harus berfikir ekstra untuk mewudkannya.

***

“pak tunggu sebentar pak” teriakku di sepanjang jalan. Aku benar-benar tidak mempedulikan lirikan mematikan dari penumpang bus lainnya. “06.45, yap karir ku di ambang maut” gumamku pelan. Sesampainya di kantor, antrian karyawan di depan lift membuatku semakin mengelus dada. “kuharap gedung ini cuma punya satu lantai” gerutuku sambil menaiki satu per satu anak tangga. Akhirnya aku sampai disebuah ruangan gelap yang tak pernah ingin kutemui. Didalam nya ada beberapa staff perempuan dan seorang pria dengan style trendi-nya. Dia adalah manajer  marketing atau lebih dikenal dengan Mr. Perfect yang dikagumi. Dia seperti orang yang tak pernah kukenal. Bahkan aku sendiri ragu, apakah benar dia pria yang kucintai, pria yang yang menyatakan cinta dengan sangat romantis dan penuh kehangatan lima tahun yang lalu. Benarkah itu Nathan ku.

Banyak hal yang telah berubah dan banyak hal juga yang membuat perbedaan diantara kami. Ditambah sekarang dia berada diposisi yang membuat wanita semakin kagum padanya. Walaupun Nathan besikap dingin pada mereka tapi aku benar-benar tidak percaya diri berada disisi Nathan. Berpisah darinya memang keputusan sulit yang harus ku ambil. Karena aku tidak mau menjadi batu sandungan untuk karir Nathan. setelah selesai memberikan berkasnya, aku berjalan meninggalkan Nathan dan staff lain di ruangan itu

***

“ikut aku” ucap Nathan ketika melihatku di depan kantor “ikut aku” ucapnya lagi ketika aku tak menoleh padanya

Dengan kesal aku mengikuti langkah kakinya, dan kami berhenti di sebuah taman didekat kantor. Disana Nathan berhenti dan berbalik memandangku. Dengan tatapan tajam dia mendekatiku.

“apa masalahnya” Nathan mulai bicara “kenapa kamu memperdulikan omongan orang lain yang bahkan kamu tidak kenal. Ini bukan Dean yang kukenal” sambungnya

“lalu apa ?” tanyaku pasrah “apa kau tau apa yang mereka bicarakan ?” lalu aku pergi.

“aku tau, tapi aku tidak  peduli” teriak Nathan

***

“Dean” panggil seseorang dengan suaranya yang khas

“iya” ucapku dengan nada ramah. Padahal aku benar-banar tak ingin bicara dengan mbak rayni si ratu gosip ini

“apa benar kamu dekat dengan Mr. Perfect ?” Tanya nya to the point

Aku tertawa geli ke arah mbak rayni, “dasar” ucapku pelan. “Aduh mbak ini ada-ada saja. Mana mungkin” ucapku sekenanya lalu pergi

“iya kan, aku juga berfikir begitu” ucap mbak rayni ke dayang-dayangnya. Mereka adalah para  pemuja berita gosip. “nggak mungkin Dean, dia itu bukan levelnya. Lihatlah wanita yang mendekati pak nathan benar-benar berkelas kan? sangat berbeda dengan Dean”  Lanjutnya lagi.

pasangan romantis

Waktu berlalu cukup cepat, sudah hampir 2 minggu aku tidak bertemu dengan Nathan ataupun cuma sekedar mendengar suaranya. Nathan dan beberapa staaf marketing lainnya ada riset di lapangan. Seperti hari-hari biasa, aku masuk keruangan dan langsung menuju mejaku, aku tidak suka bicara pada mereka yang tidak aku kenal atau bertegur sapa dengan wajah asing. Di atas meja kulihat ada selembar kertas berwarna merah muda yang diselipkan di antara tumpukan kertas kerjaku. Dengan pelan ku baca tulisannya.

Untuk dean ku

Yang lebih cantik darinya, banyak

Yang lebih semurpna darinya , ada

Tai entah kenapa aku hanya memilihnya

Gadis biasa si penyendiri luar biasa

Bukan dari kumpulan gadis pintar

Bukan dari kelompok sosialita

Dia hanya gadis cupu penghuni pojokan

Dia hanya gadis biasa yang tak terliahat

Dia bukan cahaya yang terang

Bukan bintang yang berkedip

Juga bukan bulan yang lembut

Tapi kenapa dia mampu merusak pertahanan jiwa

Kenapa aku tak bisa menghilangkkan satu detikku tanpa memikirkannya.

“Kenapa bacanya cemberut gitu, tulisannya jelek ya?” bisik seseorang dari belakang. Ya itu adalah suara Nathan.

‘aku bukannya nggak peduli apa yang dikatakan orang lain, tapi aku pikir omongan mereka ngak ada artinya dan nggak akan ngubah apapun. Dan beberapa wanita yang kamu lihat denganku, sekalipun aku tak pernah menanggapi perasaan mereka. Jadi jangan pernah berfikir seperti itu lagi, oke” lanjutnya lagi

“I love you” bisiknya di telingaku

Aku hanya diam terharu mendengar Nathan bicara. Kami memang banyak memiliki perbedaan, banyak hal membuatku selalu tidak percaya diri berada disisinya. Dia bagaikan sang bintang yang begitu sempurna di langit. Tapi Nathan tak pernah menganggap dirinya sempurna, dia selalu katakan dia akan benar benar perfect jika aku disisinya. Aku sering bertanya pada Nathan,  kenapa aku? Tapi dia bilang,  aku adalah wanita yang sempurna.  “kau adalah wanita pertama yang ajarkan ku hubungan yang tulus,  kau ajarkan kesempurnaan cinta,  kau adalah orang yang apa adanya.  Ketika sedih,  maka kau akan menangis.  Ketika bahagia,  kau tertawa layaknya anak kecil. Kau berteman dengan orang yang kau sayangi.  Karena kau berteman dari hati. Kau tak pernah sok dekat atau akrab dengan orang lain, tetapi kau tulus akrab dan dekat dengan orang lain,  itu lah yang membuatku memilihmu,  dan masih ada 1000 alasan lain,  kenapa itu kamu Dean”ucap Nathan

“Jangan bilang putus putus lagi ya, aku gak suka”. Ucap Nathan sambil memelukku.

“I love you too” balasku

 

By: Yel Nelly

Surat Misterius

surat cinta misterius

Sehari, dua hari, tiga hari dan akhirnya sebulan sudah Alya menghabiskan waktunya di sebuah pondok pesantren di luar kota tempat dirinya dilahirkan. Waktu sebulan itu terasa setahun baginya. Lama… ya sangat lama. Pasalnya di pesantren banyak peraturan yang mengharuskan dirinya untuk patuh, dan itu membuat Alya berkali-kali kena hukuman karena tidak patuh dengan aturan.

“Alya….” teriak lurah santri putri yang hapal betul dengan kelakuan santri baru ini. Teriakan itu memaksa Alya untuk pergi dari mimpi indahnya. “Emm…” Alya membalikkan posisi tidurnya. Tapi tidak untuk bangun melainkan untuk melanjutkan tidur manisnya.”Ih dasar nih bocah susah baget bangunnya” gumam Laila si lurah santri putri itu.

Di balik pintu kamar terdengar suara santri putri lain yang berusaha memberikan solusi agar Alya cepet bangun “Ada apa mbak Laila? Si Alya belum juga mau bangun?” Iya.. susah banget nih anak bangunnya” jawab Laila dengan nada kesal dan hampir berputus asa. “Tenang aja mbak, biar aku yang bangunin Alya” Vita mencoba membantu membangunkan Alya. “Alya cantiiik..udah ditunggu Kang Fatih tuh di lapangan buat latihan bela diri” Vita membangunkan Alya sambil cengingisan solnya ini hanya akal-akalannya dia saja agar Alya mau bangun. Hari ini hari Ahad, hari dimana santri dan santriwati PP Al-Musthofa biasanya ada kegiatan latihan seni bela diri. Namun untuk Ahad ini latihan diliburkan dengan alasan Kang Fatih si pelatih bela diri sedang ada tugas dadakan menghadiri rapat ke luar kota guna membahas perlombaan seni bela diri antar pondok pesantren seprovinsi Jawa Tengah.

Mendengar nama Kang Fatih disebut, spontan Alya bangun dari tidurnya. “Haduhh jam berapa ini? Aku telat aku telat..handuk..handuk mana handukku?” Alya mendadak rempong, dirinya lupa kalau Ahad kali ini latihannya libur. Sedang santriwati yang lain hanya tersenyum melihat tingkah si Alya ini. “Hey..Alya, kamu ngelindur ya? Sekarangkan libur latihannya..hhh” timpal Diva temen sekamar Alya. “Oh…iya..Aku lupa..hehe” jawab Alya sambil cengingisan.

“Tuh kan bener jurus jituku, Alya bakalan bangun kalau denger nama Kang Fatih disebut” Vita mencoba menggoda Alya yang matanya masih sipit dan kelihatannya nyawa Alya belum penuh  kembali ke raganya. ” Ih..apaan sih kamu Vit?” Alya pura-pura tidak tahu dengan maksud semua ini. “Halah..ndak usah ngumpetin perasaan mu deh Al…hhh” Liala juga ikutan membuly Alya. Memang sejak pertama masuk pesantren ini santri pertama yang Ia kenal ialah Fatih. Fatih dipercaya oleh Mbah Kyai Ahmad sebagai penerima tamu sekaligus ketua pengurus santri.

Sejak pertama bertemu ada rasa yang berbeda di hati Fatih, Ia gugup serasa tak berdaya ketika memperkenalkan dirinya kepada Alya yang waktu itu diantar kedua orang tuanya ke pesantren. Begitupun sebaliknya dengan Alya yang begitu hanyut dengan sikap Fatih yang sopan santunnya tinggi banget ketika berhadapan dengan orang yang baru ia kenal dan dengan orang yang lebih tua.

Setelah beberapa hari sejak Alya masuk ke pesantren ini, Fatih jadi terngiang-ngiang dengan wajah Alya. Cantik sih tidak terlalu, tapi wajah-wajah penuh kasih sayang nampak pada diri Alya. Hal ini lah yang membut Fatih sulit menepiskan bayang wajah santriwati baru ini.

♡♡♡

Setahun sudah Alya tholabul ilmi di PP Al-Musthofa ini. Alhamdulillah perubahan banyak terjadi pada dirinya. Kini ia menjadi seorang remaja yang lebih lemah lembut dari sebelumnya, menjadi lebih mandiri dan pastinya tambah pinter ngaji. Tidak salah orang tuanya memasukkan Alya ke ponpes ini.

Telah tiba waktunya liburan, hampir sebagian besar santri dan santriwati pulang ke kampung halaman  untuk mengobati rindu dengan orang-orang terkasihnya, termasuk Alya. Riuh terdengar suara gaduh dari bilik kamar santri putri. “Alya kamu nanti dijemput siapa?” Diva menyela ditengah kesibukan Alya yang sedang memasukkan beberapa baju ke tas hijau bermotifkan bunga melati itu. “InsyaAllah Mas Taufiq yang jemput” Alya menjawabnya dengan penuh semangat. “Emm Mas Taufiq kakak kamu kan Al?” Rupa-rupanya Diva penasaran sama sosok Taufiq ini. “Iya Mas Taufiq kakakku, kenapa emangnya?.. jangan bilang nanti disuruh ngenalin ya..aku nggak mau punya kakak ipar seperti mu Div..hehe” Alya cengingisan menggoda Diva yang suka kepo kalau ada ikhwan yang namanya tak sering Ia dengar di telinganya. “Ih..nggak lah, kamu jangan suudzon dulu Al..orang aku aja cuma nanya” Diva berusaha menyembunyikan kekepoannya itu. “Halah…nggak usah ngeles deh” Timpal Alya sambil mencubit lengan Diva. ” Aduh..apaan sih kamu Al..aku serius” Diva mengaduh lalu tanpa sebab Ia keluar dari kamar. Ya memang gitulah Diva suka nggak jelas.

Di kamar Marwah hanya tinggal Alya seorang diri. Ditatapnya lekat-lekat seluruh sudut ruang itu, ruang yang penuh kenangan indah bersama. Dua pekan Alya bakalan ninggalin kamar ini. Rasanya berat, tapi Ia lebih merasa berat jika tak bertemu orang-orang yang dicintainya di rumah. Alya bergegas keluar kamar tapi tiba-tiba Alya dikejutkan dengan selembar kertas yang jatuh. Sepertinya kertas itu jatuh dari kitab Aqidatul Awwam yang hendak Alya pinjamkan ke Rea teman di kamar sebelahnya. “Eh..kertas siapa nih” Alya nampak bingung dengan adanya selembar kertas yang dilipat rapi itu. Dirinya tidak merasa menaruh kertas di kitab itu. Perlahan Alya mencoba membuka lipatan kertas itu.

surat cinta

Terkejut bukan main. Ternyata kertas itu dari Fatih. Alya baru ingat kalau beberapa hari yang lalu kitabnya sempat ketinggalan di ruang mengaji. Mungkin Fatih yang menemukannya lalu dititipkan ke teman sekamarnya. Soalnya waktu itu Anggit yang memberikan kitab ke Alya.

Hati Alya buncah tak karuan. Pipi berlesungnya memerah bak mawar yang baru merekah. Ia tak menyangka kalau Fatih juga mennyukai dirinya. Alya pikir kisah asmaranya hanya bertepuk sebelah tangan seperti kebanyakan santri yang lain, tapi nyatanya tidak. Mungkin Alya memang tulang rusuk Fatih yang sempat menghilang.

~THE END~

By: Siti Aisyah

Rey Could Boy

cowok cuek 1
Rey Could Boy

Aku menyukaimu bagai Bunga Anyelir ditepi taman. Beraneka ragam dengan arti yang berbeda. Walau begitu, Aku tetap memilih Bunga Anyelir sebagai lambang kau adalah Orang yang akanku sukai selamanya.-

*

Tepat pukul jam 9;00 Alena menemani Rey sang kekasihnya untuk membelikan kado untuk temannya. Prediksinya, Rey ingin memberikan itu kepada Key sahabatnya yang telah lama tak ia jumpa.

“Toko mana mampirnya?” Kata Rey dengan kata yang sangat singkat. Sudah biasa Alena dengan Rey yang memiliki sifat cuek dan gamau banyak omong. Walau begitu, Alena sangat menyukainya. Disitulah nilai plus untuk Rey bagi penilaian Alena.

“Beli jam tangan aja boleh?” Respon Alena dengan ramah.

“Oh oke.”

“Bawa mobilnya jangan terlalu ngebut Rey.” Komen Alena dengan kebawelan yang ia miliki.

“Yaelah cuma segini aja.”

“Tetep aja rey bahaya. Lo bawa banyak nyawa. Emang lu mau ..-” perkataan alena tersela begitu saja karena rey menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir alena. Alhasil, alena terdiam dan kaget seketika.

“Iya sayang gue nurut ama lo.” Lalu Rey mengelus kepala alena saat sebelum Rey kembali mengendarai mobilnya.

Pipi alena kembali memerah bagai stawberi yang sangat manis. Alena yang bawel berubah menjadi diam seketika. Beginilah wanita, jika sudah merasa senang seketika terdiam dengan sikap yang diluar dugaan lelaki.

cowok cuek

Setelah sampai di tempat toko jam tangan Rey langsung masuk dan memilih jam tangan yang menurutnya bagus. Begitupula dengan alena, sang kekasih rey ini juga sibuk memilih dan merequest jam tangan yang berderetan ada di lemari kaca toko. Bawelan Alena membuat Rey sangat nyaman dengannya, entah jika lelaki lain mungkin risih karena bawelan Alena yang sangat berisik disetiap telinga yang mendengarnya. Tapi inilah nilai plus Alena dihadapan Rey. Kebawelan yang membuat Rey sang pria dingin nyaman dekatnya.

Sudah berjam jam mreka mencari jam tangan disekitarnya. Entah apakah key merasa pas dengan jam yang dipilih oleh Alena tapi yang pasti Rey bersyukur jika Alena bisa memilih jam tangan yang bagus dengan corak yang simple.

Terik matahari sangat menyengat hampir keseluruh Ruang yang ada. Apalagi kini sudah waktu dimana perut Alena kosong ingin makan siang. Sangat lapar dan sangat ingin memakan makanan yang enak.

Kriuk

“Mampus.” Refleks alena menengang karena perutnya tidak sangaja berbunyi. Memang sangat tidak bisa diajak konpromi

Rey menatap alena dengan menahan tawanya.

“Lapar?” Tanya Rey sok polos

“Ha engga.”

“Serius ni? Ayo makan dlu.” Dengan cepat Rey menggenggam tangan alena lalu menariknya agar mau ikut olehnya kedalam cafe.

“Ih reyy pelan pelan!!” Gerutu alena. Walau begitu alena sangat malu tapi senang. Sangat labil sekali perasaannya saat ini.

Setelah sampai dicafe alena dengan cepat langsung memilih tempat duduknya dan menunggu pelayan yang datang ketempat mereka berdua.

“Mau mesan apa ya?” Tanya pelayan dengan ramah.

“Mau nasi goreng plus telor plus sosis pake saladnya ya mba.” Cerocos alena dengan khas orang kelaparan. Tapi, Rey mulai ingin menahan tawanya lagi. Dia berfikir jika kekasihnya sangat sekali kelaparan saat ini.

“Lo mau beli apa?”

“Gue roti bakar sama es teh aja.” Jawab rey dengan simple.

“Oke tunggu ya.” Kata pelayan itu lalu pergi.

Tik tok tik tok

Hening

“Btw, gue mau ke kamar mandi dlu ya?” Ujar rey sambil menaruh Hpnya dimeja.

“Iyya jangan lama.”

Ide cemerlang alena memenuhi otak alena dengan sebuah hayalan tingkat dewa yang ia punya.

Alena kemudian membuka Hp rey disaat Rey tidak lagi terlihat. Alena kemudian mencek dari whatsapp hingga galeri. Ia mencek dengan detail sekali hingga ia lupa jika waktu yang ia lakukan sangatlah lama.

Tanpa sadar, Rey mengintipnya sambil melihat alena yang sibuk mencek hpnya itu. Rey tersenyum miring dan kemudian menghampiri Alena dengan langkah yang pelan.

Kau tertangkap mata

“Hemm.”

Suara Rey telah terdengar ditelinga alena. Refleks, alena langsung menaruh hp rey kembali ditempat sebelumnya walau tidak dengan posisi yang sama.

“Gimana udah seru ngeceknya?” Tanya rey serentak.

Alena seolah tidak ada hak yang terjadi saat itu dan hanya bisa tersenyum melihat Rey.

Lalu Rey memberikan hpnya kepada alena dengan berkata. “Liat aja sana dulu. Lo cek aja, gue gabakal takut karena di hp gua gaada apapun. Gue masih inget janji gue dlu sama lo. ‘Jangan ada yang disembunyiin dari kita’ Dan gue masih berpegang dengan janji itu. Jadi, silahkan lo cek lagi.” Jelas Rey dengan santai. Sungguh tidak bisa ditebak jika Rey akan berbicara itu.

Alena terdiam dan tersenyum ketika.

“Gue percaya lo.”

Rey berdiri dan seketika mencium kening alena.

Deg

Deg

Refleks, mata alena terbuka lebar dengan jantung yang tidak bisa ia kendalikan. Sungguh semua ini di luar dugaan alena.

Kemudian, Rey mengambil bunga yang ada di sakunya dan berkata. “For you.”

Alena luluh dengan semua ini. Semuanya diluar dugaan alena. Alena menyukainya.

*

Menurut Alena, Rey adalah orang yang sangat cuek dan tidak mau banyak omong. Tapi begitu saat Rey memberikan sesuatu hal yang diluar dugaan Alena, ia sangat luluh serta sangat senang. Disitulah nilai plus Rey bagi Alena. Sang pria cuek dengan keromantisan yang sangat percefct bagi Alena.

-End

Written by Mila anisah

SEBELAS LILIN YANG KAU SULUT

lilin romantis

SEBELAS LILIN YANG KAU SULUT

Langit telah dipenuhi warna jingga. Dari atas sini aku bisa menatap hamparan angkasa yang dipenuhi gradasi dan corak senja yang khas. Burung-burung migrasi memberi warna tambahan pada lukisan langit itu. Menawan sekali. Ini adalah satu-satunya hiburan bagi jiwaku yang sepi.

Tapi esok aku akan bertemu cintaku. Sudah enam bulan ini senyumnya absen dalam hidupku. Sebagai seorang nahkoda, paling-paling aku hanya bisa menjumpainya via layar ponsel yang kadang putus-putus karena sinyal kurang mencukupi. Dan hal itu ternyata sama sekali tidak mengurangi rindu. Pertemuan yang “nanggung” itu malah bikin suasana hati makin rancu. Aku ingin mencubitnya pelan ketika dia bercanda.

Malam harinya aku malah tidak bisa tidur, berharap pagi segera menjelang dan aku bisa pulang. Ku hitung jumlah bintang, ku hirup bau lautan, dan ku dekap angin selatan, tapi sama sekali tidak berhasil mengundang kantuk. Wajah istriku telah menjajah pikiranku.

Ku angkuti koper ke taksi semenit setelah turun dari kapal. Hitungan menit terasa lama sebelum sampai rumah. Di halaman depan aku disapa tetangga, tapi berita buruk tercium dari jarak 20 meter dari pintu utama. Seorang lelaki tengah berbagi senyum dengan istriku. Bagi sebagian orang mungkin hal ini sepele. Bisa saja lelaki itu teman istriku atau tukang reparasi televisi. Tapi bagi orang yang selama enam bulan memendam rindu, hal tersebut merupakan sambutan pertemuan yang buruk. Yang ku harapkan adalah peluk dan cium, bukan pemandangan demikian.

Aku menanti lelaki itu undur diri. Aku sempat berpapasan, dia merunduk-runduk sungkan tanpa menyapaku. Dari kejauhan istriku berlari menjemput. Membantuku membawa perkakasku yang lumayan banyak. Rasa sebalku tidak bisa ditutupi. Beberapa kali istriku mengajak bercanda, tanggapanku dingin saja. Dia agak frustasi, tapi tetap berusaha menjadi istri yang baik bagi suaminya. Dia tetap membuatkan air hangat; tetap menyajikan makanan, dan menemani nonton televisi. Sampai datang waktu rebah, aku masih belum sanggup membinasakan kemangkelan hatiku.

Nyatanya yang mengalahkan adalah lelah. Aku tidur nyaman, meski tidak berangkulan seperti biasanya. Di dekatnya saja sudah cukup meredam gejolak amarahku. Mungkin esok semua akan jadi seperti semula.

Aku terbangun ketika mendengar sebuah gesekan. Di laut aku sering mendengarnya, tapi di rumah? Aku segera memastikan bunyi itu. Hari masih gulita saat membuka mata. Nampak satu titik terang kecil. “Selamat ulang tahun pernikahan kita yang pertama sayang.” Ah, dari sebuah sumbu lilin berangka satu. Istriku maju menyodorkannya dekat mulutku. Sesaat kami terpejam merangkai doa lalu meniupnya bersama. Dan itu menjadi akhir kecemburuanku pada sosok ayu yang selalu ku sayang.

Lilin-elektronik

Hatiku makin lega ketika dia menceritakan bahwa lelaki kemarin adalah juru antar kue. Kekhawatiranku tentang rawannya meninggalkan istri seorang diri di rumah tidak terbukti. Kesetiaannya masih seteguh dan sekokoh dulu saat mengikrarkan janji suci. Meski sebagian kebutuhan batinnya tidak terpenuhi, aku yakin dia memiliki cara untuk membunuh rasa sepi itu. Bukanlah sebuah pemberian besar yang datang sesekali, tapi perhatian kecil yang hadir penuh konsistensi yang membuat cinta sejati bertahan. Dan aku telah memberikan perhatian itu sebaik mungkin. Sesering mungkin.

“Itu apa yank?” dari keremangan aku melihat bentuk absurd cenderung kotor di atas meja rias.

“Itu lilin. Aku tidak berani membangunkanmu, jadi setiap lima belas menit lilin meleleh, aku menggantinya dengan yang baru.” Astaga. Aku benar-benar terpukau dengan niatannya memberi kejutan ini. Setidaknya ada sebelas lilin yang tergeletak, jadi paling tidak dia telah menungguku bangun semenjak 3 jam lalu. Belum cukup di sana, dia juga memberikan sebuah kado berisi baju Popeye dan Olive berwarna biru yang jika disatukan kedua gambar tersebut membentuk adegan ciuman.

Aku mengecup keningnya sebagai ungkapan maaf atas ketidakdewasaanku menyikapi sesuatu. Kami tidak kembali tidur, karena sejenak kemudian adzan subuh berkumandang. Pagi ini dia ingin melepas rindu, seharian bersamaku sambil mengenakan baju couple itu. Seperti sepasang kekasih muda, kami mengabadikan setiap momen perjalanan. Kami mulai dari pusat perbelanjaan. Istirahat di sebuah taman dan ditutup dengan: Mengunjungi pantai. Bagi seorang yang tiap hari melihat laut, sebenarnya itu pilihan yang buruk. Aku bosan dengan air garam. Tapi hadirnya dia di sampingku kebosanan itu mengepompong dan akhirnya menetas sebagai kupu-kupu. Indah sekali.

Perpaduan senja, samudra, dan dirinya membawaku bawa sebuah kenangan yang akan selalu ku simpan selama enam bulan ke depan. Baju itu juga menambah nilai estetika perjalanan kami. Baju itu seolah simbol ketidakinginannya lepas dariku. Kami harus tetap bersama supaya puzzle gambar di baju tetap utuh. Supaya keluarga kami tetap utuh.

Aku mencintainya dalam balut kesederhanaan yang dia bawa. Aku suka matanya yang memancarkan kelembutan dan ketulusan. Adalah dedengkot iblis seorang lelaki yang berani melukai kekasihnya. Dan aku tidak mau masuk dalam rombongan itu. Aku akan menempatkan diriku sebagai benteng yang menjaga agar senyumnya tetap sama. Selamanya.

BY : ALVIN NUHA

Sejauh Apapun Melangkah Jodoh Pasti Bertemu

lomba

Semua berawal ketika kita memasuki bangku Sekolah Menengah Pertama. Awalnya aku tidak sekelas dengannya, dan karna ada kesalahan informasi, akhirnya dia di tukar ke kelas saya, karna nama mereka yang sama. Disini saya sekarang berumur 23 thn, nama Vie(nama samaran) dan saya menjadi Ibu Rumah Tangga sekarang, dan suami saya Gian(nama samaran) berumur 24 thn dan bekerja di salah satu perusahaan swasta.
Kita seperti siswi-siswi SMP biasa, bermain, bercanda, dan kadang-kadang berantem dan ejek-ejekan. Setelah lama waktu berlalu kita sudah di penghujung kelulusan dan menuju ke jenjang yang lebih tinggi yaitu SMA. Dan ketika menuju kelulusan dia menyatakan cinta kepada saya, dan saya berfikir itu hanya cinta monyet hanya untuk cinta-cintaan sebatas anak SMP saja, dan saya menolak. Ketika masuk SMA kamipun di pisahkan oleh sekolah yang berbeda, setiap hari saya selalu melihatnya lewat sekolah saya karna sekolahnya melewati sekolah saya. Dan tidak jarang saya di ejek teman saya karna sering merhatiin dia. Dan dia coba mendekati saya lagi, tapi saya menolak. Dan suatu hari saya melihat dia berboncengan dengan seorang gadis satu sekolah dengannya, dan saya merasa cemburu. Dan saya sadar bahwa kecemburuan saya tiada guna, karna saya yang telah menolaknya.
Tak terasa lama waktu berlalu kamipun merayakan kelulusan kami, dan kami merayakannya dengan jalan-jalan ketempat wisata bernama Ancol, yang sekarang terkenal dengan arung jeramnya. Dan tak di sangka dan tidak di duga kami bisa bertemu disana. Tapi aku tetap cuek dan jual mahal 😅😅😅 maklum cewek, tapi sebenernya saya ingin di ajakin jalan-jalan sih. Dan setelah pulang dari tempat wisata sayapun mendapat inbox di fb saya, karna waktu itu belum muncul yang namanya WA, “kau makin dewasa” isi inboxnya. Dan saya berbunga-bunga, ya Allah itu inbox pertamanya. Dan setelah tamat SMA kamipun tidak melanjutkan kuliah dan langsung bekerja, saya tetap bekerja di kota kelahiran saya dan dia pergi bekerja ke ACEH. Sebelum dia ke Aceh kami gak pernah inbox atau smsan, tapi sebelum dia pergi dia inbox saya “Gar jaga anak kita ya, aku pergi dulu”, itu panggilannya ketika kami SMP, karna itu boru saya. Waktu nerima pesan itu perasaan saya ya lucu tapi ya senang.
Dan lama waktu itu berlalu kami saling tidak menghubungi satu sama lain. Dan ketika bulan Juni datang saya teringat akan Ulang tahunnya, dan saya tidak punya nomor handphonenya. Putus sudah harapan saya, dan sayapun tidak memikirkan hal itu lagi. Ketika saya duduk di depan rumah di bawah bintang-bintang, sepupu saya datang bersama suaminya, dan suaminya itu adalah sepupu dari si pria yang saya lagi inginkan nomor handphonenya itu, dan sayapun akhirnya memberanikan diri untuk meminta nomor handphonenya. Dan mereka yang punya hanya nomor handphone abang kandungnya si Gian ini. Dan akhirnya sayapun menelpon abangnya dan minta nomor handphonenya si Gian. Dan akhirnya saya dapat nomornya, bahagia sekali, walaupun setelah saya telpon abangnya dan istrinya bertengkar gara-gara saya telpon malam-malam dikira selingkuhan abangnya, ahhaahaha..
Dan setelah dapat nomornya sayapun begadang malam karena besok ulang tahunnya, dan tepat tengah malam langsung saya SMS dia “Selamat Ulang Tahun ya, wish u all the best” hanya itu sms saya. Dan di balas “Terima kasih, ini siapa ya?” Dan saya jawab “ini Vie, apakah saya orang pertama yang ngucapi HBD ke kamu?” Dan jawabannya “terimakasih, kamu orang kedua yang mengucapkannya setelah pacar saya”. Hah? Beneran? Seriusan? Ya Allah, mewek, tapi lucu, sakit hati, terkejut, dan malu jadi 1. Dan setelah itu saya tidak pernah menghubunginya lagi, hahahahaa..
Dan saya mulai aktif lagi di dunia maya, dan setiap status saya pasti di commentnya, dan akhirnyapun kami sering chat dan bahkan telponan. Dan sampai akhirnya dia inbox saya “me ❤+ your ❤ = pelaminan” ya Allah bahagianya. Dan tidak beberapa lama ketika ulang tahun saya diapun melamar saya, dan ketika ulang tahun saya tahun depanpun kami resmi menikah. Dan ketika menikah dia mengatakan “di setiap do’aku selalu ku sebut namamu, ketika aku pertama kali jatuh cinta padamu, ku katakan pada diriku, bahwa cinta pertamaku akan menjadi cinta terakhirku juga, dan akhirnya menjadi kenyataan”. Dan sekarang pernikahan kami beranjak 4 tahun. Namun Allah masih belum menitipkan malaikat kecilnya kepada kami. Ketika beranjak di usia pernikahan yang ke 3 tahun sayapun hamil, akan tetapi tidak bertahan lama, karna janin tidak berkembang dan saya mengalami pendarahan dan akhirnya harus di kuret. Dan saya bersyukur karena suami saya selalu sabar merawat dan mendampingi saya sampai saat ini. Dan semoga kami segera di beri momongan dan hanya maut yang dapat memisahkan dan di pertemukan kembali kelak di syurganya, amin..

Ttd
Evi Y.S

TAK COUPLE TAK LOVE

cerita romantis

Minggu pagi ini terlihat ramai sekali, terlebih lagi pasar swalayan yang ku datangi ini memang selalu ramai di minggu pagi. Nama ku Asya. Pagi ini aku ingin membeli beberapa benang untuk baju buatan ku. Baju itu kurencanakan untuk hadiah ulang tahun Fazri, kekasih ku. Baju itu sengaja ku buat couple agar terlihat lebih romance dan lebih kompak satu sama lain. Ngomong ngomong soal Fazri, dia adalah kekasih ku sejak dua tahun yang lalu ketika aku duduk di kelas 11 SMA. Bisa di bilang pertemuan ku dengan Fazri adalah pertemuan yang tak biasa. Karena saat itu terjadi konflik tawuran antara sekolah ku dengan sekolah Fazri. Aku sama sekali tidak ingin terlibat, tapi sial nya konflik itu terjadi tepat ketika aku sedang berada di lokasi tempat penyerangan. Karena perasaan ku yang kaget akibat serangan tiba-tiba itu, langsung saja ku sembunyi di gedung kosong yang menjadi tempat sarang burung wallet. Kalau bukan karena situasi yang mendesak, aku tak akan mau sembunyi disana, aku takut. Aku benci mereka, mengapa harus dengan cara kampungan seperti ini hanya untuk menyelesaikan masalah yang menurutku sepele. Rasa takut ku makin bertambah saja saat ku dengar suara jejak kaki seperti datang ke arah ku. Langsung saja kuambil batang kayu dan ku sembunyi di balik pintu. Dan saat orang itu datang. Ahh!! Teriaknya kesakitan. Orang itu berlumur darah dengan seragam sekolah nya. Ternyata, dia adalah siswa sekolah yang sedang tawuran dengan ku. Dia terlihat sangat kesakitan sampai aku tak tega melihat nya. Ku hampiri dia dan langsung ku keluarkan sapu tangan dan antiseptik yang selalu kubawa kemana mana. Dia pun terkaget melihat ada seseorang selain diri nya di dalam gedung wallet itu.

            “Gua pikir lo salah satu dari mereka. Tapi ternyata bukan” kalimat pertama yang dia ucapkan saat aku mengusap wajah nya yng penuh darah

            “Darimana lo tahu kalau gue bukan salah satu dari mereka?” tanya ku

            “Ya masa ada musuh yang ngebantu lawan nya sendiri”

            “Kalau gue ternyata salah satu dari mereka gimana?”

            “Gak mungkin lah cewek cantik kaya lo ikutan jadi brandal kaya mereka”

            Astaga. Apa dia baru saja menggombal. Menyebalkan tapi menyenangkan. Itulah awal pertama aku berjumpa dengan Fazri. Dia memang bukan laki hebat seperti yang lain. Dia hanya laki-laki biasa. Tapi celaka nya sejak pertama ku bertemu dengan nya, rasa nya ada sesuatu dalam diri nya yang membuat ku tertarik. Terutama karena sifat humoris dan ketengilan nya itu.

            Akhirnya, setelah dua minggu ku buat baju couple ini selesai juga. Tak sabar rasanya ingin ku berikan kepada Fazri. Yah meskipun ulang tahun nya dua hari lagi tapi rasa nya seperti dua tahun saja. Menunggu memang bukan lah hal yang menyenangkan untuk dijalani. Kringggg… ah handphone ku berbunyi,  dan tentu ini telpon dari Fazri. Langsung saja kuletakkan box kado itu diatas tumpukan pesanan baju butik ku. Aku senang hari ini dia mengabri ku. Karena beberapa hari ini, dia sibuk dengan tugas tugas kuliah nya. Aku pun sibuk dengan pesanan pesanan orang di butik. Rindu. Setelah lama berbincang sampai tak sadar kalau sudah sore. Ku bergegas untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, setelah itu baru ku mandi.

            Malam ini aku terus teringat dengan Fazri. Mungkin masih terbawa suasana telepon tadi. Langsung saja ku hampiri kado yang akan ku berikan pada nya. Tapi ku cari tidak ada. Ya ampun, ku cari kesana sini tetap tidak ada. Lalu kutanya Bi Asih apa dia melihat box berwarna biru. Tapi dia bilang semua box sudah dibawa Kang Asep untuk dikirim. Apa! Jangan jangan box ku terbawa juga!  Ahh itu dia Kang Asep sudah pulang. Langsung ku tanyai kang asep dimana box ku. Betapa lemas nya aku ketika tahu kalau box itu sudah tercampur dan sudah selesai dikirim. Apa harus ku buat baju yang baru? Tapi tidak mungkin bisa ku selesaikan dua baju dalam dua hari. Tanpa pikir panjang, mau tidak mau, aku akan susul dan kucari ada dimana baju itu. Keesokan pagi, aku langsung berangkat menuju rumah rumah yang memesan baju padaku. Tapi sampai sore begini, tidak ada satu rumah pun yang menerima box itu. Dan sial nya lagi, seseorang menabrak ku hingga catatan nama orang orang yang memesan baju ku itu tercebur di selokan. Aku tak tahu lagi harus mencari dimana? Tapi, aku gak boleh putus asa. Aku masih ingat beberapa rumah yang belum kudatangi. Hari mulai malam. Ku putuskan untuk mencari box itu besok.

            Selasa pagi. Ya ampun. Nanti malam adalah hari ulang tahun Fazri. Apa yang harus ku lakukan? Langsung ke bergegas ke kamar mandi dan segera pergi untuk mencari box spesial itu. Tapi hari ini aku juga belum mendapat kan box itu. Aku merasa kecewa sekali. Baju yang sudah berminggu-minggu kubuat dengan pebuh cinta hilang begitu saja karena kelalaian ku sendiri. Bagaimana ini? Hari sudah gelap. Bahkan azan maghrib pun sudah berkumandang. Apa yang harus kuberikan pada Fazri? Semangat Asya! Kamu pasti bisa menemukannya! Tapi hari semakin malam. Fazri trus menelpon ku. Jam sudah menunjukan pukul 21.00. mungkin acara nya sudah hampir selesai. Maafkan aku Fazri mengabaikan telpon mu. Akhirnya dengan lenggang tangan ku putuskan untuk pergi ke acara ulang tahun Fazri dengan taxi. Ku telpon Kang Asep untuk langsung saja ke rumah Fazri agar nanti ketemu disana saja untuk mengantar ku pulang

            “Akhirnya, yang di tunggu tunggu datang juga” ucap teman teman Fazri

            “ Loh kamu kenapa? Kok kusut gitu? Keliatan capek lagi? Kenapa Kang Asep dateng duluan?” tanya Fazri khawatir

            “Maaf ya aku ga bisa kasih apa apa buat kamu. Padahal aku udah  buat sesuatu yang spesial buat kamu. Tapi ga sengaja hilang. Udah dua hari ini aku cari keliling keliling. Tapi tetep ga ada” jawabku lesu

            “Gak apa apa kok. Kamu udah dateng aja aku udah seneng”

            “Coba aja box baju itu gak hilang”

            “Maksud kamu box biru yang isi nya baju couple itu?” tangan nya menunjuk kesalah satu tumpukan kado

            “Hah? Itu kan box ku! Itu kado aku untuk kamu. Kamu dapet dari mana?”

            “Kan Kang Asep yang ngasih kemaren”

            “Apa? Akang yang ngasih?” tanya ku heran kepada Kang asep

            “Abis nya alamat nya buat den Fazri. Ya saya anter non kesini” jawab kang Asep

            “Akang kenapa gak bilang? Aku tuh udah cape kasana kemari cari box ini tau”

            “Tadi pagi saya mau bilang ke non Asya, tapi non buru buru pergi”

            Ya ampun, akhir nya ketemu juga baju couple ku. Meskipun agak kesal dengan Kang Asep, tapi gak apa apa deh. Yang penting, baju itu udah ada di Fazri.

By :  Caroline Noer Asy’ary

CINTA SEHANGAT SWEATER

cinta baju couple

Deras hujan bulan Desember membasahi sepanjang jalan. Ku lihat beberapa orang juga ikut berteduh di gubuk kosong bekas toko lama. Semua nya adalah pengendara roda dua. Mereka membawa keluarga, teman, ada juga yang hanya sendiri sambil membawa barang dagangan nya. Mereka semua terlihat merungkuk kedinginan. Lain denganku, karena dengan sweater hangat yang ku kenakan ini, aku merasa hangat. Meskipun agak dingin sedikit, hingga aku memasukan tangan ku ke kantung celana agar lebih hangat. Hujan, peristiwa yang mengandung banyak arti bagi orang orang. Bagi ku juga. Bagi ku, hujan tidak sekedar hanya tetesan air yang jatuh ke bumi, atau hanya aliran air yang jatuh dari langit. Hujan bulan Desember ini rasa nya seperti membawa ku ikut mengalir dalam deras nya kenangan. Kenangan indah bersama seseorang. Yang dengan nya hari ku selalu penuh tawa, yang karena nya hari ku selalu terganggu dengan rindu rindu. Rindu akan hangat kehadiran nya di sisi ku. Seperti hangat nya sweater yang ku gunakan ini. Hujan dan sweater. Dua hal yang dulu pernah menjadi bagian penting dalam memori hidup.

            Saat itu, tepat nya satu tahun yang lalu. Ketika aku datang ke Shirt Goal’s, salah satu toko baju ternama, terbesar, dan termodis bagi kalangan remaja seusia ku. Saat itu tepat hari terakhir ujian semester ganjil di kelas 11. Aku dan teman teman ku memutuskan untuk pergi berbelanja ke Shirt Goal’s untuk merayakan selesai nya kepeningan yang kami rasa setelah satu minggu mengikuti ujian. Awal rencana, aku ingin membeli sebuah jaket karena musim hujan sudah akrab menyapa. Tapi seperti nya, aku sudah memiliki banyak sekali jaket yang terjejer di lemari gantung. Baru saja hendak ku berbalik arah dari kumpulan blok jaket jaket di pojok toko. Namun, mata ku tertarik melihat sepasang sweater unik di pojok blok. Tapi sepertinya sweater itu di peruntukkan kepada pasangan atau yang biasa di sebut “couple”. Kutanya penjaga toko itu, apa aku bisa membeli salah satu nya saja. Karena kulihat model nya yang belum ku punya, dan terlebih lagi warna nya biru muda. Akhirnya, mereka membiarkan aku membeli nya walau hanya setengah potong.

            “Padahal kalau mbak beli sepasang bisa dapet diskon loh! Ajak aja pacar nya, mbak”. Tawar penjaga kasir

            Langsung saja ku bergegas pergi meuju teman teman ku di parkiran karena takut ketahuan kalau aku ini JOMBLO. Hehe.. bagi ku itu tidak masalah. Setelah selesai, kami pun pulang membawa belanjaan masing masing. Akhirnya, bisa istirahat juga. Tak sabar aku tuk memakai sweater ini besok untuk jalan bersama Rina dan Karin.

            Minggu pagi yang mendung. Cocok sekali untuk aku memakai sweater ini. Tapi kuharap, mendung biarlah mendung asal jangan sampai hujan. Kalau tidak, bisa batal rencana ku jalan dengan Rani dan Karin. Ku tunggu mereka di bawah pohon kamboja besar di taman Jl. Asoka. Sudah pukul 10.00 tapi mereka belum datang juga. Padahal langit sudah semakin hitam saja. Ku buka handphone dan ku lihat notif masuk. Pesan dari Rani! Uh, tidak jadi pergi? Kenapa tiba tiba sekali? Padahal aku sudah menunggu selama ini. Kesal! Dengan ajah tertekuk ku beli saja bajigur hangat yang lewat di taman. Mungkin bisa menenangkan rasa kesal ku ini. Ku balik ke tempat duduk di bawah pohon kamboja besar tadi. Tapi ketika ku membalikan badan. Awww!!! Seseorang menabrak ku dan menumpahkan bajigur yang ku bawa hingga tangan ku terasa panas. Siapa orang yang tiba tiba menabrak ku ini. Membuat hari ku semakin sial saja.

            “Maaf, maaf! Gua ga sengaja. Lagian lo balik badan nya tiba tiba sih” ucap nya.

            What! Dia bilang aku balik badan dengan tiba tiba? Jelas jelas dia yang menabrak ku dengan tiba tiba. Di tambah lagi, ya ampun! Sweater yang dia pakai sama seperti yang aku pakai. Persis seperti pasangan dari sweater ini yang kemarin ku beli di toko. Selama hidup, aku gak pernah suka di samakan oleh siapa pun. Camkan itu!

            “Lepas sweater itu!” perintahku. “cepat lepas!”

sweater couple

            “Apa? Lo udah gila ya? Masa gua buka bukaan disini. Disana aja yuk, lebih sepi” jawab nya dengan santai

            Dasar menyebalkan! Kami terus bertengkar mempermasalahkan sweater ini. Sweater dengan arah panah ke kanan dan ke kiri dengan bertuliskan masing masing “That’s my girl” dan “That’s my boy”. Sampai akhir nya penjual bajigur itu bilang

            “Neng, bajigur nya mau diganti? Apa sekalian juga mau dibikinin buat pacar nya?”

            “Dia bukan pacar saya!!!” kami teriak berbarengan

            “Loh, bukan pacar tapi ko mesra gitu? Ade kakak an ya? Atau terjebak friendzone? Atau TTM? Atau…atau … atau….” oceh tukang bajigur

            Langsung saja ku pergi meninggalkan mereka. Hari ini benar benar Bad Day. Keesokan harinya saat upacara bendera, kulihat orang menyebalkan itu berdiri di depan lapangan. Hmm. Kukira dia dihukum karena sifat nya yang tengil. Tapi teernyata, dia adalah calon ketua OSIS periode berikutnya? Apa aku gak salah liat? Ga mungkin si tengil itu jadi ketua OSIS kan? Sudah pasti kalah lah. Aku yakin. Lihat saja nanti. Pasti kalah. Pasti kalah… sepulang sekolah sengaja aku mampir keruangan OSIS untuk melihat hasil suara pemiilihan. Dan, hasilnya si tengil itu menang! What! Bagaimana bisa? Sejenak kulihat banyak sekali foto foto dan piala piala penghargaan atas nama dirinya. Apa aku sudah salah menilai si tengil itu ya?

            “Ngapain lo ngeliatin foto gua kaya gitu? Naksir? Lo pasti nyesel ya udah marah marahin gua kemarin?” lagi lagi dia datang dengan tiba tiba

            “Hah? Eng.. engga kok engga, itu tadi aku mau ini, anu..” duhh jadi salting kan gara gara salah judge orang. Semoga muka aku ga merah

            “Gua Ardhan” dia menjulurkan tangan nya “ kalo lo?

            “Namaku Nina” aku membalas jabatan tangan nya

            “Oh.. Nina. Sering ngantuk ya?”

            “Maksudnya?”

            “Nina bobo.. ohh nina bobo.. kalau tidak bobo digigit Ardhan”

            “Hahaha, emang nya kamu suka gigit”

            “Hmm, engga sih. Tapi kalau kamu suka bisa aku jadiin hobi”

            “Hobi gigitin orang?”

            “Hobi gigitin Nina”

            “Hahaha.. bisa aja”

            Itulah percakapan akrab aku yang pertama kali dengan Ardhan. Ardhan, si tengil yang gak sengaja sweater nya couple dengan ku. Semenjak itu, aku mulai dengan Ardhan. Aku tak tahu mengapa, tapi kehadiran Ardhan membawa hari hari ku menjadi penuh tawa. Sifat nya yang humoris namun tetap dewasa membuat aku merasa nyaman di dekat nya. Sampai saat ini dia…

            “Nih, bajigur nya” tiba tiba Ardhan mengacaukan khayalan indah ku

            “Makasih buat bajigur dan buat pengacau khayalan” jawabku

            “Khayalan? Hujan kaya gini ga boleh banyak ngelamun, entar kesambet!”

            “Enak aja, biari kali. Lagian lama banget sih Cuma beli bajigur doang”

            “Iya maaf, abis ngobrol sama tukang bajigur. Kata nya dia mau ganti bajigur yang waktu itu tumpah”

            “Serius? Itu kan udah lama banget udah satu tahun yang lalu”

            “Ya, waktu itu kita sama sama pakai sweater ini. Bedanya dulu pacar dugaan, tapi sekarang…”

            “Sekarang apa?” tanya ku menggoda nya

            “ Now, you are my girl, you are my special little girl”

            Setahun sudah kujalani hubungan dengan Ardhan. Dan semoga tak sampai tahunan saja. Aku akan mencintai nya sampai keturunan ku yang ke tujuh memiliki tujuh turunan yang mempunyai tujun turunan.

By :  Caroline Noer Asy’ary

KISAH NYATA MY LOVELY

cerita insprasi

Ini kisah nyata yang kualami saat ini, di kehidupan yang fana ini. Mungkin ini jauh dari kata romantis. Tapi romantis ini ku tujukan untuk putriku tersayang. My little angel yang telah mendahului kami untuk menempati syurgaNya.

Rabu, 08 november 2017 09.00 am
Di sebuah lorong yang sepi akan pasien dari sebuah klinik. Hanya aku dan suamiku yang berada di ruang rawat untuk menantikan kelahiran anakku yang pertama. Tak lama kemudian dokter pun memintanya untuk mengurus administrasi pendaftaran dan obat-obatan.
Sendirilah aku di ruang ini.

WP_20170302_13_40_19_Pro (1)

Awal mulanya baru pembukaan 2. Ku pikir sampai pembukaan 10 tidaklah menyakitkan. Waktu berlalu begitu lama kurasa dan semakin menyakitkan. Aku menelpon ibuku untuk menemaniku kebetulan klinik tsb tidak jauh dari rumah dan kami memutuskan pergi berdua kemudian ibuki menyusul. Suamiku belum juga selesai karna mengantri untuk mendaftar.
Sekitar Pkl 11.30 am aku berada di luar alam sadar dan teriak sekeras nya. Entah jam berapa saat itu, aku tidak memperdulikan pasien lain ruang sebelah atau di ruangan lain.
Ibuku datang, tak lama suamiku pun datang,
‘aku teriak, meracau selama pembukaan terjadi. Rasanya seperti tulang rusuk ku dipatahkan bersamaan. Bahkan disentuh pun terasa sangat menyakitkan

IMG-20170921-WA0001

‘suamiku: istighfar sayang 😭 jangan nangis.. istighfar.
Aku meremas gengggaman tangannya. Tak pernah kulepaskan.
Tetap saja aku teriak dan meracau tak jelas.

Seketika pkl 14.30 barulah bidan datang untuk menangani. Entah kemana mereka saat aku berteriak, sama sekali tidak ada tindakan/pengecekkan berkala. Entah pukul berapa waktu itu aku tak mampu membuka mata lagi karna lelah berteriak.

Suamiku disampingku disaat detik-detik melahirkan anak pertamanya, bagiku itu moment romantis yang kualami.
Na’as bayiku tak tertolong, seketika tak sampai 1 jam dia hidup di dunia.
Dia menitipkan malaikat mungil, Dan Dia mengambilnya kembali. Mungkin tuhan punya rencana indah untukku dan suamiku. Mungkin tuhan memberikan banyak waktu untuk kita pacaran lagi.
Mungkin tuhan mengajarkan kita tentang arti kehilangan.

Ariqa namanya..
Cerita ini untuk putriku tersayang.
Dia Yaa Rahiim (maha penyayang)
Menitipkan janin dalam rahimku 9 bulan penantian panjangku dan membawanya kemanapun. Membayangkan kisah indah kelahiran anakku. Hingga ku lahirkan ke dunia. Tak sempat ku memeluk mencium nya.
Tuhan.. Titipkan salam sayang peluk rindu untuk putriku..

By : Aikokom

Tentang Kelopak Bunga Lily dan Baju Biru Bergambar Hati

true love baju couple

 

              “Aku memperhatikanmu,” suara seorang perempuan membuatku mengalihkan perhatian dari apa yang sedang kukerjakan. Aku mendongak, dan mendapati gadis itu berdiri sejarak sepelemparan batu dariku. Kedua tangannya bersedekap, sementara sepasang  matanya memandangku menyirat tanya.
             “Aku?” tanyaku memastikan kata-katanya ditujukan padaku.
             “Iya, kamu, dan apa yang kau lakukan pada bunga-bunga itu,” jawab gadis itu. “Tapi aku tak mengerti, mengapa kau lakukan itu.”
             “Ini?” sahutku sambil menunjuk kelopak-kelopak bunga yang berserakan di sekitarku. Kupetik sekuntum bunga yang masih bergelayut di induknya. “Kau lihat ini ! Dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku……” aku merapal berulang kali seraya mencabut kelopak bunga yang kupetik satu per satu. Gadis itu menatapku sepertinya belum mengerti.
             “Aku sedang mencari jawaban atas cintaku,” terangku mencoba menjawab kebingungannya. “Kau tahu, sudah puluhan bunga kupetik, dan selalu berakhir dengan dia tak mencintaiku,” kesahku. Gadis itu tertawa geli.
              “Konyol, mengapa tak kau tanyakan langsung saja padanya, dia menerima cintamu atau tidak?” tanyanya kemudian.
               “Suatu saat, aku akan menanyakan langsung padanya. Tapi tidak sekarang, belum saatnya,” jawabku. Kupetik sekuntum bunga lagi. Gadis itu menunjuk bunga di genggamanku.
              “Kurasa  aku tahu masalahmu. Itu jenis bunga berkelopak genap. Kau akan tetap berakhir di kalimat yang sama. Kenapa tak kau balik saja urutan kalimatmu, atau kau cari saja bunga lain yang berkelopak ganjil?” saran gadis itu. Aku menggelengkan kepalaku.
               “Kau tak mengerti. Bukan begitu aturannya. Aku harus bertahan pada bunga ini sampai kutemukan kelopak yang tak biasa. Kelopak yang ganjil. Karena cintaku ini juga tak biasa,” terangku. Sekarang gantian gadis itu yang menggelengkan kepalanya.
                “Kau benar, aku tetap tak mengerti,” kata gadis itu seraya beranjak dari tempatnya berdiri, lalu melangkah menjauhiku. Aku mencuri pandang sosok gadis itu dari belakang. Tiba-tiba gadis itu berbalik, aku buru-buru menunduk lagi dan pura-pura kembali sibuk mencabuti kelopak bunga.
              “Aku harap kau beruntung!” kudengar dia berseru. Aku mendongak, lalu mengacungkan dua jariku sebagai tanda terimakasih. Gadis itu membalas dengan lambaian tangan, lalu kembali meneruskan langkahnya. Makin jauh, namun sesuatu dari dirinya tak mau beranjak dari tempatku berada.
pacar romantis baju couple
              “Ahaaaa! Akhirnya kau kehabisan bunga untuk kau cabik-cabik, kan?” gadis itu berdiri hanya tiga langkah dariku. Matanya berbinar, sepertinya pemandangan aku yang telah kehabisan bunga membuatnya bahagia.
              “Yahh, seperti yang kau lihat. Tak ada lagi bunga yang tersisa di pohon ini,” sahutku tanpa semangat. “Dan aku tak juga menemukan bunga berkelopak ganjil.”
               “Jadi bagaimana sekarang?” tanya gadis itu, raut wajahnya menunjukkan antara ikut prihatin dan penasaran.
                “Sepertinya sudah tiba waktunya aku menanyakan langsung padanya apakah dia menerima cintaku atau tidak,” terangku. Gadis di depanku tersenyum samar.
                “Seharusnya kau lakukan itu dari kemarin-kemarin. Bukannya berbuat konyol mencabik-cabik bunga-bunga yang tak berdosa itu,” gerutunya sembari menunjuk kelopak-kelopak yang bertebaran di tanah.
                 “Baiklah. Aku harap pengorbanan bunga-bunga itu tak sia-sia,” sahutku memasang muka menyesal. “Jadi, katakan padaku, apakah kau mau jadi bunga berkelopak ganjil untuk jawaban cintaku?” tanyaku cepat-cepat sebelum keberanian yang telah kukumpulkan berhari-hari ini menguap. Gadis di depanku terperangah. Sepasang matanya yang bak kejora dan terus mengganggu tidurku akhir-akhir ini membelalak lebar. Sejenak kemudian tawanya pecah berderai, membuatku sedikit kesal. Bagiku, ungkapan cinta, bagaimana pun wujudnya, tak patut untuk ditertawakan.
                “Katakan…..,” ucap gadis itu erusaha menahan tawanya. “Bagaimana kau bisa jatuh cinta padaku? Maksudku, kita bahkan samasekali belum kenal,” lanjut gadis itu masih dengan menahan tawa.
                “Aku melihatmu melangkah di jalan ini suatu pagi. Kau memakai baju berwarna biru dengan gambar hati warna merah. Aku tahu itu baju couple, karena aku juga punya satu di dalam lemariku. Aku jadi membayangkan aku berjalan di sampingmu dengan baju yang sama. Entah kenapa saat itu juga aku merasa kaulah jodohku dari langit. Wanita yang tepat yang akan menemaniku sepanjang sisa usiaku” terangku jujur. Gadis itu terdiam, sepertinya sedang berpikir hendak berkata apa.
                 “Terus terang, aku suka caramu menyatakan cinta. Laki-laki lain mungkin hanya akan memetik bunga-bunga itu dan mengikatnya dengan pita merah jambu untuk diberikan kepadaku, bukannya mencabik-cabiknya seperti apa yang kau lakukan,” tutur gadis itu seraya tersenyum geli.
               “Aku yakin kau akan langsung menolak jika aku melakukan cara yang satunya,” sahutku.
               “Bukan berarti dengan cara mencabik-cabik bunga, aku pasti menerima. Ya, kan?” tanyanya dengan nada menggoda.
                “Setidaknya aku mendapatkan secuil perhatianmu,” kataku. “Jadi, apa jawabanmu?”
                “Aku akan menjawabmu dengan cara yang tak biasa juga. Kau pakailah baju couple punyamu besok, tunggu aku di sini. Jika aku muncul dengan baju yang sama, berarti aku menerima cintamu,” jawab gadis itu berteka-teki. Lalu melangkah pergi, dan kembali tawanya pecah berderai.
                “Setidaknya, beritahu aku namamu!” seruku. “Biar aku mudah menyebutnya dalam doaku nanti malam,” imbuhku kembali berseru.
               “Lily…..namaku Lily. Sama seperti bunga yang telah kau cabik-cabik itu!” seru gadis itu tanpa menoleh. Entah itu benar namanya atau bukan. Aku tak peduli, cinta tak butuh sebuah nama. Yang aku yakin, aku akan berada di sini besok, dengan memakai baju couple berwarna biru bergambar hati.
By : Maia Harsanto

Ketika Berpakaian Couple

baju couple romantis
Suatu ketika saya ada undangan ke acara pernikahan bersama suami saya. Saya bingung mau pakai baju apa. kemudian ada ide pakai baju couple. Saya pakai gamis dan kerudung abu dan suami pakai jubah dengan bahan dan model yang sama. Memakai pakaian couple itu seperti hal yang aneh, karena sebelumnya kita jarang pakai couplean. Hari itu adalah hari yang romantis karena berpakaian couple, seperti pasangan yang akur dan setia. Padahal kita memang jarang berkumpul dan kondangan juga. bahkan ada tetangga yang bilang ” mau kemana nih kok tumben pakai pakaian rapi dan serasi couplean lagi ga biasanya ?”. saya jawab aja ” mau kondangan ke pernikahan temen.” dan ada juga yang nanya dan ingin pakaian seperti kami. ”、dimana nih belinya dan berapa? tanya tetanggaku yang suka kepo. saya hanya jawab ” ya di toko mana aja deh. ” bahkan mertua pun melihat dan bertanya mau kemana. alhasil kami jawab ” kondangan”. itu adalah pengalaman memakai pakaian couple pertama kalinya. dan pernah kami memakai pakaian biasa dan warna yang sama.aku  pakai atasan begitu pula suamiku. seperti romeo dan juliet . aduh saudaraku pada iri. so sweet.
foto romantis baju couple
kini aku punya anak. ingin rasanya pakai pakaian couple dan bingung ukuran dan bahan  yang pas buat anakku. dan aku tanya temen dan harganya lumayan karena mungkin kualitasnya yang bagus dan ada ongkos kirimnya juga. saya pun melihat iklan di internet model dan gambarnya bagus- bagus.
 waktu itu saya belum ada uang buat beli pakaian couple itu. saya mencoba menabung untuk bisa membelinya. tapi sayangnya karena kebutuhan ekonomi kami yang sedang surut akhirnya saya tidak jadi membeli pakaian couple itu.
ketika itu saya melihat ada pasangan suami istri yang membawa empat orang anaknya dengan memakai pakaian couple. aduh hatiku merasa iri ingin seperti mereka. saya hanya berdoa bisa memiliki pakaian couple keluarga seperti mereka itu. semoga aja suatu saat nanti ada rezeki untuk bisa beli pakaian couple keluarga amin.
nah inilah cerita tentang baju couple dari saya. semoga cerita ini menjadi pelajaran dan inspirasi bagi pembaca.
By: Siti Rahmatun nazilla