Mitos Baju Couple

Sebelumnya, perkenalkan namaku Raina. Aku adalah seorang Mahasiswi di salah satu Universitas di Bandung. Aku memiliki seorang kekasih bernama Reyhan, dia juga kuliah di Universitas yang sama denganku, namun beda jurusan. Aku dengannya telah menjalin kasih selama kurang lebih dua tahun. Menurutku, Reyhan itu tipe cowok yang perhatian dan romantis. Dan aku sangat menyayangi dan mencintainya. Dia selalu pandai mengukir senyuman tulus di bibirku dan membuatku merasa bahwa aku adalah wanita paling berharga di dunia ini. Namun ada satu hal yang tidak aku sukai dari Reyhan, karena selama kami berpacaran dia selalu menolak saat aku mengajaknya membeli baju couple dengan mitos yang dia percayai ‘Bahwa sepasang kekasih yang membeli atau memakai baju cople, maka tidak lama setelah itu mereka akan putus’. Sangat konyol bukan? padahal itu kan hanya sekedar mitos. Temanku pun banyak yang membeli baju couple bersama kekasihnya, namun mereka tetep akur-akur aja bahkan langgeng sampe ada yang menikah.

Karena pertentangan pendapat tentang ‘Mitos Baju Couple’ itu, tak jarang sering terjadi percekcokan antara aku dan Reyhan. Aku sering Unmood sekali saat Reyhan selalu kekeh dengan kepercayaannya terhadap Mitos Baju Cople tersebut. Sampai suatu hari

“Sayang kita jalan yuk!” Ajak ku kepada Reyhan yang tengah meminum jus mangganya di kantin kampus.

“Jalan kemana? Aku masih ada satu kelas lagi.” Tanyanya yang diakhiri dengan kalimat yang sepintas seperti sebuah pemberitahuan.

“Ish kamu mah. Yaudah sih bolos aja.” Ujarku seraya mengerucutkan bibirku sebal lalu memberinya saran.

“Emang kamu mau kemana sih?” Tanya Reyhan seraya mengacak-acak rambut yang terurai.

“Ke Mall.” Kataku seraya tersenyum.

Reyhan membelalakan matanya “Hah? Ke Mall? Mau ngapain?” Tanya Reyhan tampak kaget.

“Yaudah yuk beli baju couple.” Aku menatap Reyhan dengan mata yang berbinar penuh pengharapan. Ya, berharap kalau Reyhan mau menuruti ajakanku untuk kali ini.

“Ayolah!” Rengek ku.

“Kan kamu tahu sendiri, kalau sepasang kekasih—-“

“Yang membeli atau memakai baju couple, maka tidak lama setelah itu mereka akan putus.” Selak ku memotong lalu melanjutkan kalimat yang sudah sangat aku hafal karena sering menelusup ke sepasang telingaku.

“Nah, itu kamu tahu.” Ujar Reyhan.

“Ya tapikan itu cuman mitos.” Ujarku berusaha meyakinkan Reyhan.

“Tau ah. Males aku ngomong sama kamu.” Ujarku ketus lalu pergi meninggalkan Reyhan begitu saja.

Karena berdebat dengan Reyhan itu adalah hal yang sangat menjengkelkan, dia selalu saja ingin menang sendiri. Dia tidak pernah mengerti kalau aku hanya ingin punya baju couplean saja dengannya, hanya itu saja apa susahnya sih.

Akhirnya aku pulang dengan perasaan marah kepada Reyhan. Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke kamar dan membaringkan tubuh ku di atas tempat tidur. Belum saja aku ingin menenangkan pikiranku yang lagi Unmood banget karena Reyhan, pria itu malah menggangguku dengan terus menerus mengirimkan pesan.

>Reyhan

-Sayang

-Raina? Kamu nggak marah kan?

-Bales dong

-Jangan marah ya

-Kalo kamu marah aku jadi gak konsen kuliahnya

 

>Raina

-Brisk!

-SPAM!

 

> Reyhan

-Biarin!

-Salah kamu sendiri gak mau belas pesan dari aku.

-Yaudah deh ya kalo gitu aku lagi ada kelas dulu.

-Jangan lupa makan sama istirahatnya sayang.

-Satu lagi. Jangan rindu!

-Takutnya hati aku nanti dibawa kabur sama kamu.

(Read)

 

Tanpa sadar aku tersenyum tipis setelah membaca pesan-pesan yang Reyhan kirimkan. Dia selalu saja seperti ini, selalu merayuku hingga aku tidak bisa marah lama-lama kepadanya.

Semenjak kejadian tersebut aku jadi mendiamkan Reyhan. Semua pesannya tidak pernah aku balas dan teleponnya tidak pernah aku angkat. Bahkan aku pernah bolos tiga mata kuliah hanya karena tidak ingin bertemu dengannya. Entah mengapa untuk kali ini aku ingin sekali mendiamkannya. Dan karena itu pula Reyhan sering kali mengirim ku surat yang dia tulis tangan dan dia titipkan kepada sahabatku Maya.

Isi surat-suratnya seperti ini

  1. To : Raina

“Kalo kamu pikir dengan cara kamu marah ke aku bisa bikin kamu menjauh. Kamu salah besar! Karena aku malah semakin menyayangimu.”

– Reyhan

 

  1. To : Raina

“Kamu itu kayak hujan ya. Moodian! Tapi beruntunglah karena aku suka hujan.”

-By Reyhan

 

  1. Dear Raina

“aku tidak ingin mengatakan apa-apa. Jadi kamu jangan Ge-er dulu. Aku cuman ingin bilang kalau aku mencintaimu. Sudah itu saja!”

– Reyhan

 

  1. Untuk Kesayanganku

“Aku hanya ingin memberi tahumu bahwa sampai detik ini aku masih mencintaimu. Bagaimana dengan dirimu? Ah, aku yakin jawabannya pasti sama kan?”

-Reyhan

 

  1. Teruntuk Kekasihku

“Bagaimana kabarmu saat ini? Aku yakin kamu pasti sedang baik-baik saja kan? Iyalah, pasti! Karena kamu kan baru dapat surat dari pria yang sedang kau rindukan.”

-Reyhan

 

  1. To : My Love

“Jangan senyum-senyum sendiri saat membaca surat dariku. Aku tahu kok kamu senang.”

-Reyhan

 

  1. Untuk : Raina

“Bagaimana dengan surat ke tujuh ku ini? Aku sangat yakin sudah kau nantikan sejak lama. Dan aku hanya ingin mengundangmu untuk keluar dari kamar mu dan menghamipiriku di taman belakang rumah mu. Karena sekarang aku sedang menunggumu.”

-Reyhan.

 

 

Dan tepat di hari ke tujuh aku aku mendapatkan surat ke tujuh dari Reyhan yang Maya antarkan pada pukul 08.00 malam. Aku sontak terkejut, apa benar bahwa Reyhan sedang menungguku di taman halaman belakang. Jika ia?

Aku langsung turun dari kamar dan berjalan ke arah taman halaman belakang rumah. Dan benar saja, ternyata ada Reyhan disana. Dia yang semula membelakangiku langsung membalikan tubuhnya dan menghadap ke arahaku saat aku sudah sampai di sana. Dia langsung tersenyum saat melihat kedatanganku, aku pun sama hal nya dengan dia. Seberapa keras pun aku mencoba untuk tetap marah kepadanya, aku tidak bisa. Karena ku benar-benar merindukan sosok pria yang kini ada di hadapanku. Tak lama kemudian aku langsung menghamburkan pelukan kepadanya, dia pun membalas pelukan itu. Cukup lama kami melepas rindu dalam ikatan pelukan tersebut, hingga pada akhirnya Reyhan melepaskannya.

couple3

“Kenapa kamu memeluk ku seperti itu? Rindu ya?” Tanya Reyhan seraya menggodaku.

“Tidak. Aku hanya ingin saja memeluk. Karena guling di kamar ku sedang di cuci.” Alibiku.

“Yasudah. Kalo gitu aku rela semalaman ini menjadi guling hidup di kamar mu.” Ujarnya santai, namun mampu membuat hatiku terasa melayang.

Aku langsung memasang ekspresi pura-pura marah kepada Reyhan.

“Tidak. Aku hanya becanda.” Ujarnya.

“Aku datang ke sini hanya untuk memberikan ini kepadamu. Terimalah.” Sambungnya seraya menjulurkan Paper Bag bermotif  Love-Love.

Aku meraihnya lalu membuka Paper Bag tersebut. Dan begitu terkejutnya aku saat mengetahui isi Paper Bag tersebut. Aku langsung melirik Reyhan dan menatapnya tak percaya. Dia hanya tersenyum simpul ke arahku. Karena senangya, lagi-lagi aku menghamburkan pelukan ke tubuhnya.

“Terimakasih.” Ujar yang masih menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya.

“Untuk apa?” Tanyanya.

“Untuk hadiah terindah ini.” Ujarku lalu melepaskan diri dari dekapannya.

“Biasa saja. Itu bukan apa-apa.” Ujarnya santai.

“Jadi, kamu tidak percaya lagi dengan mitos itu?” Tanyaku.

“Bukan tidak percaya. Hanya saja aku berusaha untuk lebih percaya dengan keinginan wanita kesayangannku.” Jawabnya.

“Lalu, dari mana kamu membeli baju ini. Bagus sekali, aku suka.” Kataku seraya melihat-lihat desain baju tersebut.

“Aku tidak membelinya. Aku mendapatkannya.” Katanya.

“Gratis?” Tanyaku kepada Reyhan

“Tidak!” Sanggahnya.

“Lalu?” Tanyaku yang ke sekian kalinya.

“Aku mengikuti kompetisi berhadiah baju couple yang ada di Mall. Lalu memenangkannya.” Jelas Reyhan.

“Bagaimana bisa? Kamu melakukannya untuk ku?” Tanyaku tak percaya.

“Mengapa harus tidak bisa. Membuat seorang gadis merindukanku saja aku bisa. Apalagi melakukan hal seperti ini.” Kata Reyhan dengan sok nya.

“Bukan untukmu. Aku hanya ingin membahagiakan orang yang aku sayang. Itu saja.” Kata Reyhan lagi.

“Jadi?”

“Ya, kalau kamu merasa bahagia berarti itu jawabannya.”

Aku tersenyum mendengar penuturan Reyhan. Meski gaya bicaranya yang kaku dan tutur bahasanya yang baku, tapi itu dapat membuatku bahagia.

“Sudah. Jangan tersenyum setiap saat! Nanti setok senyum mu untuk 50 tahun ke depan bisa habis. Kalau habis bagaimana? Aku yang rugi karena tidak bisa menikmatinya lagi.” Gombal Reyhan.

Lagi-lagi aku tersenyum, namun kali ini pecah dengan tawa bahagiaku. Terima kasih Reyhan, terima kasih telah memberikanku kado yang sangat berharga ini. Dan terim kasih telah menjadi kekasihku. I LOVE YOU REYHAN!

 

 

-TAMAT-

BajuCouple Coupleshirts

Instagram.com/bajucouplecom. Menerima Cerita Cintamu (Boleh cerita nyata/fiksi/khayalan). Terbuka Peluang menjadi Reseller. WA 0838-7171-2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *